Showing posts with label LEARN. Show all posts

2 slices of bread, a cup of coffee and so many distactions

My body still waking up at a normal time hours even though it is a holiday, sorry not a holiday, but THE holiday. This is the time that I am waiting after a full school year, they called it a well-deserved break. 

But my first week full of organising, cleaning up stuffs and helping my sister who got sick because of the dengue fever. And this is my first time who really can do a self reflection and contemplation because I am too tired and overwhelmed. Not too mention the plumbing problem that made so much effort to do the dishes and laundry. The reason why is that, I did all the things by my self. I don't want to be drained too much. I need to slow down and take a step back for all the 'small things' that happened, it is surely small I need to be smart to find the solution.

The distractions here came from so many aspects, many areas, many ways. I don't know how important is to manage distractions, this skill right here, I hope to teach my children to learn it earlier. The easy distraction comes from how easy is to get the things that we enjoy, a one way click of watching a 40 episode of Netflix, a finger tips of strolling down the lane your Warriors Championship story, your willing to add more skills in to your resume, dealing with deadline, helping husband to build brands, thinking of how to lose weights while other things like dealing with daily house hold chores, what to cook or even order for today, what to play with my children and also how to support my husband in every way. 

I know I need to push the pause button. I need to step away and look from outside. What should I do things differently, I still need 7 weeks before the school start. This post is a big matter. I hope to share a good thing for the next post.

Love


hunz

Waking up at 4 in another place

- Malas bercerita dan merangkai cerita.. hehe

- Kembali ke sini karena sedang lagi staycation semalem, trus gak bawa ipad buat gambar (sengaja menikmati sesuatu yg berbeda), gak bawa note book buat nulis (sengaja juga) dan saya sudah terlalu bosan memasukan segala informasi yang ada di dunia si Maya sana. 

- Dunia sudah sangat berubah blogger, sekaran perubahan sangat sangat cepat.. dulu platform seperti blog bisa bertahan puluhan tahun, skrg sesuatu yg baru pasti di ikuti dengan saingannya, jadi ya capek sih ngikutin semua orang.

- Blogger sudah tidak trend, karena orang orang sudah mulai pindah ke sesuatu yg ringkas seperti instagram.

- Orang orang sudah tidak appreciate easy comunication, semuanya sepertinya mudah cepat dan "murah."

- Ada orang yg tidak pernah kena covid sama sekali dalam waktu 3 tahun, ada yg 3 kali kena dalam jangka waktu 3 tahun, saya yang terakhir. Never been easy. Too long to share.

- Otak saya emang random penuh dengan poin-poin yang berterbangan yang harus di tangkap satu satu.

- Jangan lupa dihitun keuangan hunz.

- Jadi han, udah mau nambah umur lagi nih, jangan lupa, it's not all about you hunz! mau semua orang menggembor2kan self-love, tp sebenarnya when you don't think too much of your self, instead for other people (genuinenly for other people who in needs, bukan karena biar mereka suka or seek for their validation) when you do that, shows that you already FULL of yourself that you want to do more. 

- Ohya, kemarin bertemu dengan sekelompok nenek nenek dan kakek kakek, mereka having so much fun! kind of nenek dan kakek yg bukannya gaul dan merasa muda, justru mereka terlihat lebih muda karena mereka so happy and having so much fun. Mereka lucu foto2, gak bawa keluarga or cucu cucu mereka, tapi kaya satu pertemanan gitu. In my mind, I will enjoy this phase of my life! taking care and getting so busy with my children. Saat melihat mereka dan berandai, kalau nanti seumuran mereka mungkin MJ dan Leica lagi kuliah di luar negeri, or sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing. So, I will ENJOY and APPRECIATE every little things with them. 

- Yaudah gak usah kelamaan nulis, semenit lagi jam 6. Mau muter muter dulu, trying to enjoy life and breath fresh air!

Love you teman teman..

xoxo

hunz

Stella Sutjiadi : Ibu Pembelajar

Tidak terasa ya sudah dua bulan lebih program work from home ini berjalan  dan tidak terasa pula anak saya MJ sudah memasuki minggu ke 9 belajar dari rumah. Setiap minggu MJ akan selalu diberikan lesson plan dari sekolahnya, isinya berupa materi apa yang akan diajarkan setiap hari berikut soal soal yang harus dikerjakan. Jujur walau saya guru, tidak mudah mengajari anak sendiri. Mungkin konsep saya mengenai pendidikan bisa diterapkan, tapi kesabaran saya tidak bisa diadaptasikan.. :), karena sepertinya anak saya lebih mudah mendengarkan gurunya ketimbang saya, begitu pula mungkin beberapa anak murid saya lebih mudah mendengarkan saya ketimbang orang tua mereka.:) Oleh karena itu saya amazed banget sama ibu ibu yang sebelum pandemi ini ada pun sudah mengajari anak anaknya full di rumah, karena percayalah itu tidak mudah!
Salah satu Ibu yang saya kagumi namanya Mba Stella Sutjiadi, Ibu dari dua anak perempuan ini, Daffa (8) dan Laluna (4), menceritakan keseharian mereka dalam setiap postingan yang ada di media sosial Instagram. Dalam postingan tersebut mba Stella sering mensharingkan bagaimana Ia memfasilitasi anak anaknya belajar, dari akademis sampai non akademis, dari membaca, menulis sampai belajar musik dan seni. Kegiatan yang mereka lakukan sangatlah beragam dan terlihat kesiapan mba Stella dari segi materi yang Ia akan ajarkan ke anak anaknya. 

Setelah memberikan 5 pertanyaan ke mba Stella dan membaca penjelasan yang dia berikan, menurut saya mba Stella adalah tipe Ibu yang jujur, apa adanya dan tidak menjudge dan merasa metode or pilihan yang dia jalani benar. Dalam dunia parenting or motherhood yang "keras" ini, tidak sedikit yang merasa metode mereka lebih baik dari yang lain atau merasa paling benar dan hebat.  Saya percaya semua metode yang di adaptasikan itu mempunyai background dari keluarga masing masing yang tidak kita ketahui, begitu pula lingkungan ataupun sejarah keluarga yang terbentuk. Jadi balik lagi, membangun keluarga dan bagaimana menjalaninya adalah mutlak pilihan masing asing individu, tetapi itu semua balik ke pribadi masing masing dan seberapa besar tanggung jawab kita ke anak anak yang sudah dititipkan ke kita.

Langsung aja yuk di simak interview singkat saya bersama dengan Mba Stella Sutjiadi. Semoga bermanfaat!

1. Mba Stella, sebelum Pandemi ini mba Stella sudah menerapkan Pembelajaran Home Learning ke anak anak Mba Stella di rumah, kalau boleh tau, apa saja sih yg dibutuhkan ibu ibu untuk mempersiapkan anaknya benar benar belajar di rumah? boleh share sedikit tipsnya…

Menurut aku harus dari yg paling dasarnya dulu yaitu menyamakan persepsi ttg proses belajar itu sendiri. Bahwa belajar bukan melulu berarti pergi ke sekolah. Bahwa belajar adalah sebuah ‘proses’ bukan sebuah ‘tempat’. Karena seringkali buat mereka yg terbiasa belajar di sekolah formal terlanjur mengkotakkan bahwa ‘belajar itu di sekolah sedangkan di rumah bukan untuk belajar’. Aku tidak bilang semua ya..tp sebagian besar demikian. Tujuannya supaya mindsetnya sama dulu bahwa belajar tidak tergantung tempat jd bisa dimana saja dan kapan saja. Rumah pun tempat kita belajar. :) Lebih dalam lagi, maka ditanamkan pemahaman bahwa setiap saat itu sebenarnya adalah kesempatan kita buat belajar. Goalnya adalah sama2 meyakini bahwa belajar adalah kebutuhan diri bukan sekedar kewajiban mengejar nilai semata. Tapi kebutuhan kita buat mengembangkan diri. Kalau sudah paham pengertian dasar serta tujuannya, harapannya kemudian akan muncul semangat serta inisiatif untuk belajar itu sendiri. :)
Tentu saja semua harus disampaikan dg bahasa yg disesuaikan dg usia dan kemampuan pemahaman masing2 anak ya. :)

2.Memang seorang Ibu itu harus berkorban, dan semua pengorbanan kita tidak ada yang sia sia, apalagi saat melihat anak anak kita berkembang dan bertumbuh menjadi pribadi yang utuh. Bagaimana menurut Mba Stella “pengorbanan” seorang Ibu?

Saya memilih tidak memandang dan merasa ini sebagai sebuah ‘pengorbanan’. Bukan berarti saya bilang siapapun yg memandangnya demikian adalah salah. Ini pendapat saya pribadi mudah2an ada yg sepaham. Buat saya kata ‘pengorbanan’ berat artinya dan akan membuat saya pun merasa ‘berat menjalaninya’ apapun itu. Lagi-lagi pendapat ini sangat pribadi. Saya lebih memilih untuk memupuk kesadaran bahwa sejak awal menjadi ibu adalah pilihan saya, memiliki anak adalah keputusan yg saya buat secara sadar. Maka semua yg saya lakukan saat ini seberat apapun itu adalah bagian dari tanggung jawab saya menjalani keputusan saya tsb. :) Dan ternyata saat saya menanamkan pola pikir demikian, semuanya jd terasa lebih mengalir ringan. Rasa capek tentu ada, tapi saat sadar itu telah tumbuh, semua yg dijalani menjadi terasa wajar dan baik-baik saja. Jadi bukan tentang pengorbanan tapi tentang tanggung jawab pada keputusan yg telah saya ambil sendiri dan rasa syukur atas jawaban dari doa saya sendiri. :) Jadi tips saya : coba gali lagi apa dan kenapa sejak awal kita dan pasangan memutuskan untuk memiliki anak. :) Apa tujuan awalnya dan apa goal akhir dari membesarkan anak kita ini? :)

3. Sebagai seorang ibu yang Full time job, bagaimana mba Stella menyeimbangkan kehidupan Mba Stella, seperti apakah mba Stella punya “Me Time”? Atau bagaimana pendapat Mba Stella tentang “Me Time”nya seorang ibu.

‘Me time’ hmm..saya share sedikit pendapat dari seorang ahli parenting yg sangat saya kagumi. Saat beliau ditanya demikian, beliau jawab kira2 begini “apa sebenarnya konteks me time yg ditanyakan? Apakah kalau ada istilah ‘me time’ maka sisa wkt diluar itu artinya ‘not my time’? Siapa yg memilih memiliki rumah ini? Saya. Maka saat saya bekerja membersihkannya, itu adalah ‘me time’ saya. Siapa yg memilih memiliki anak? Saya. Maka saat saya sibuk memandikannya, menemaninya belajar, bahkan menc*b*kinya (maaf ya..) itu adalah ‘me time’ saya.” Sampai sebelum saya mendengar ucapan ini dari beliau saya masih kesulitan sendiri menyimpulkan apa me time saya. Saya masih sempat ‘mengkotak2an’ me time saya misalnya saat di pagi hari saya sendiri, atau saat saya punya wkt luang membaca buku sendirian, atau saat sesekali saya bisa pergi sendirian. Tapi...saat saya mendengar itu, saya langsung merasa, hei, Inilah konsep me time yg cocok ternyata dg hati saya. Ya. Semua itu adalah ‘me time’ saat itu adalah pilihan kita yg kita pilih secara sadar maka semua kegiatan yg berkaitan dengannya harusnya masuk dalam bagian ‘me time’ saya. :)

4. Bagaimana Mba Stella menerapkan kedisiplinan ke anak anak? 

Aku menerapkan disiplin dg dasar ‘cinta yg berpikir’ (mengutip judul buku karangan mba Ellen Kristi) :) cinta yg tidak hanya dilandaskan pada rasa sayang semata tp jg pada kesadaran menegakan nilai-nilai kebenaran untuk kebaikan. Kebenaran yg landasannya hanya 3 : hukum negara, agama dan sosial. :)

5. Bagaimana pendapat mba Stella tentang pendidikan di Indonesia? dan alasan utama mba Stella memilih home schooling? 

Kalau menilai pendidikan di Indonesia rasanya aku belum pantas memberikan penilaian disini mba. Karena aku ngga mendalami ttg pendidikan di Indonesia saat ini secara menyeluruh. Hanya tau sebatas pengalaman masa lalu aku jg suami yg aku yakin dg banyaknya pilihan sekolah saat ini pasti sudah ada/mungkin bahkan banyak perubahannya/kemajuannya.

Aku hanya bisa menjawab alasan kami memilih homeshcooling. Sebenarnya alasannya ada banyaaak sekali. Tapi semoga 5 alasan ini bisa mewakili :
  • 1. Dengan hs anak2 punya banyak keleluasaan waktu untuk mengembangkan minat dan bakat yg telah dititipkan pada mereka yg unik dan berbeda-beda.
  • 2. Karena saya dan suami sepakat bahwa sekolah formal itu bukan sebuah kewajiban dan proses belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.
  • 3. Karena aku ada di rumah setiap saat sehingga aku sadar aku punya wkt cukup untuk mendampingi anak-anak belajar.
  • 4. Karena aku percaya bahwa untuk menjadi guru2 anak2 aku tidak wajib sangat pintar hanya wajib untuk mau terus belajar. :)


Belajar Lagi di Usia Tua?

Masih ingat sekali sewaktu SMA dulu saat mengikuti kelas kursus di salah satu lembaga Bahasa Inggris, saya pernah bertemy dengan dua orang spesial di salah satu sesi ujian kenaikan tingkat kami; nenek tua berambut abu-abu dengan usia mungkin 55-60 tahun dan satu lagi seorang pria berkebutuhan khusus yang harus di gendong-gendong karena tidak bisa jalan. 

Walau hanya sekali bertemu, kenangan itu tidak bisa saya lupakan. Menjadi inspirsi dan seangat saya bahwa belajar tidak mengenal usia dan tidak perlu takut akan hal apapun jika memang tekad di dalam jiwa masih sangat membara. Sama juga seperti kisah Beethoven yang tiba-tiba tuli di usia dia yang sudah semakin tua, tetapi masih bisa menghasilkan karya-karyanya yang masterpiece, Vincent Van Gogh contoh lainnya yang merupakan salah satu seniman late blooomer dengan lukisan pertama dia yang terkenal The Potato Eaters (1885) saat dia berusia 32 tahun. Ya, belajar itu tidak ada kata terlambat, itu intinya. 

Tapi kenyataanya saat dijalani tidak semudah yang saya bayangkan. Selama kehamilan kedua ini saya mulai lagi belajar dari nol tentang Art, belajar menggambar dan melukis di media kertas ataupun elektronik. Kesukaan saya di bidang seni sebenarnya sudah ada semenjak saya kecil, masih ingat juga semua buku gambar saya dibagi-bagikan ke teman-teman karena mereka minta untuk hadiah kenaikan kelas, pernah juga juara lomba menggambar tingkat kecamatan karena dipaksa dari sekolah. Singkat cerita semuanya berhenti saat saya memasuki sekolah menengah pertama, dan kegemaran itu saya tidak tekuni sehingga saya berubah haluan menjadi ahli bahasa. Lalu di usia saya yang tidak muda lagi ini, tiba-tiba ketertarikan saya di dunia menggambar dan melukis kembali mencuak lagi saat saya berada dalam lingkungan seni kembali, belum lagi karena tanggung jawab saya sebagai asisten guru seni untuk anak-anak jenjang TK, jadilah saya berusaha kembali memanggil hasrat dan jiwa itu. Kesulitan ini dan itu timbul, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, belum lagi rintangan dari persepsi melihat karya seniman Indonesia yang sudah keren dan memiliki ciri khas mereka sendiri, sampai saya bertanya dalam hati: "Saya maunya apa sih?"

Di ulang tahun ke +1 kemarin saya dihadiahi suami perangkat elektronik yang disebut Wacom. Tangan saya masih kaku sekali menggunakannya, padahal dulu gambar di Paint pakai mouse aja saya bisa (waktu SMP, red). Ahh, memang sepertinya saya harus menggali lebih dalam lagi darah seni yang sudah saya hampir tinggalkan ini, semoga saja masih bisa di gali ya? dan apakah saya termasuk late bloomer seniman Indonesia? hehe.. Mari kita aminkan bersama.















MJ suka intrupsi kalau mamanya lagi gambar dan minta dibikinin gambar-gambar yang dia mau.. :P

Marshall dan Gadget

Dengan banyaknya artikel yang memuat bahayanya pemakaian gadget bagi anak anak dari usia dini, begitu juga pengalaman yang disharingkan oleh teman, atau bahkan menyaksikan sendiri efek yang dihasilkan dari sebuah gadget terhadap anak yang kita kenal (no social life, for example), sebaiknya itu tidak membuat kita menjadi parno dengan gadget itu sendiri melainkan sebagai orang tua kita dapat menanggapinya dengan bijaksana.

Waktu saya mengajar di sekolah menengah atas, saya sangat prihatin dengan murid murid saya yang tidak bisa menghadapi dengan baik pengaruh dari teknologi bagi kehidupan mereka, karena cepatnya proses masuk teknologi tersebut, mereka tidak dibekali secara khusus oleh sekolah ataupun orang tua mereka dalam menghadapi imbas positif maupun negatif yang dihasilkan oleh penggunaan teknologi, khususnya internet. Oleh karena itu mengajari anak dan memberikan contoh yang baik buat mereka dari kecil adalah waktu yang tepat.

Ketergantungan akan teknologi sebenarnya sudah ada dari saya kecil dulu, contohnya permainan video games yang menurut saya sampai sekarang masih ada, namun bedanya kita sudah tahu konten permainan tersebut dari awal dan hanya penggunaan waktu yang bijak dari orang tua yang harus ditegakkan.

Jadi bagaimana dengan gadget seperti Ipad ataupun smartphone yang menjadi momok bagi orang tua jaman sekarang? Bagaimana kita dengan bijak membantu anak-anak dalam penggunaan gadget yang baik dan tepat sasaran? Karena memang sebenarnya pemanfaatan teknologi yang baik dan tidak berlebihan sangat  berguna untuk perkembangan inteligensi anak. 

Saya akan mensharingkan beberapa tips yang saya terapkan dalam pemakaian gadget di rumah dengan MJ. 

1. No gadget outside of home
Semenjak MJ kecil saya dan papanya tidak membiasakan dia membawa Ipad/Smartphone saat berpergian ke luar. Karena kami ingin memaksimalkan waktu bersama dengan MJ, saat kami keluar kami ingin MJ banyak berkomunikasi dengan kami, juga dengan orang-orang sekitarnya, belajar bersosialisasi dari kecil adalah hal yang penting buat MJ. 

2. Penggunaan gadget di waktu tertentu
Saya dan papanya juga membiasakan MJ untuk memakai gadget saat weekend atau libur saja dan dengan durasi yang sudah ditentukan. Waktu yang ditentukan seiring dengan pertambahan usia dia, sekarang MJ hanya menggunakan gadget paling lama 20-30 menit sekali main. MJ akan berhenti sendiri tanpa saya harus paksa, karena sebelum dia main saya akan menyalakan alarm untuk batas waktunya dan saat alarm berbunyi dia akan menyerahkan gadget itu kepada saya dengan sendirinya.

3. Satu gadget untuk MJ
Saya dan papanya juga hanya memberikan Ipad khusus buat dia untuk bermain atau menonton video. Kami ingin memberikan MJ perbedaan, bahwa kebebasan dia bermain hanya di gadget itu, dia tidak bisa meminta main atau nonton video di handphone saya atau papanya, MJ belajar mengetahui batasan.

4. Pengaturan konten Youtube
Saya merekomendasikan untuk menggunakan Youtube for Kids yang bisa diatur penggunaanya. Dari pengaturan umur, apa saja yang disukai anak, dan paling penting filter semua video yang cocok ditonton untuk anak-anak. Untuk seusia MJ yang belum bisa mencari sendiri video yang dia suka, MJ tinggal melihat atau memilih video video yang berada di home page yang langsung muncul karena sudah sering dia tonton. 

5. Menjadi contoh yang baik untuk MJ
Saya dan papa MJ selalu saling mengingatkan untuk tidak menggunakan handphone berlama lama di depan MJ, pun kalau saya harus bekerja menggunakan koneksi internet, saya akan menggunakan laptop saya dan selalu bilang ke MJ kalau saya sedang belajar atau menunggu waktu yang sesuai untuk menggunakan gadget (biasanya saat MJ tertidur, bermain bersama abang dan kakanya atau sedang asik nonton kartun kesukaan dia)

6. Konsisten
Dari semuanya itu konsistensi adalah hal yang sangat penting untuk anak, karena di usia mereka yang sangat penuh dengan observasi mereka akan sendirinya belajar melihat celah yang bisa diambil untuk mencapai keinginan mereka. Konsistensi hanya dapat ditunjukan dengan tindakan bukan dengan kata-kata yang keras atau marah-marah. 

Mengikuti perkembangan jaman seperti penggunaan teknologi memang penting buat anak-anak, tetapi itu bukan satu-satunya sumber utama anak untuk belajar; anak-anak bisa belajar bercerita dengan orang tuanya, belajar melalui buku, melalui sosialisasi dengan orang lain, menonton kartun anak dan belajar dari kesalahan mereka yang terjadi di kehidupan nyata. Jadi, jangan takut anak anda tidak pintar karena tidak terbiasa dengan gadget,  takutlah jika anak anda menjadi anak yang takut tidak ada gadget. Semoga tips dari Mama MJ bermanfaat. :)

Simplifying Happiness

2016 Had been a year of challenge for my personal identity, the time when I almost doubt my self, my inner self. My heart had been interfered by the things that I saw around me, it's just ridiculously non sense for my life principle. I tried to fight for it not to embrace it at the first place and it put me in a swinging boat for sometimes, but fortunately it didn't drag me too far.  I am awake with the same me and with the clearer sight, thanks to my husband and my best friend who tirelessly remind me who am I actually.

I am pregnant to my second child. I am so happy and bless for our soon-to-be new members of the family in this coming April or May. I almost thought would deliver her (yes, she!) soon as I felt my water little leaking, thank God it was just a watery discharge. During this second pregnancy, I try to make connection with the baby through his big brother, MJ. My husband and I want to make sure that both of them are well attached from the beginning. I thank God that big brother MJ already noticed his little sister existence and aware that he will become a big brother soon.

In the next coming week, I will say hello to the early 30. :). It's so funny that at this time I felt like a really learner again from the beginning, I realised that all of this time I'm not a good learner and finally figured it out how to be one; empty your bottle (head).

For me simplifying happiness means by looking deeply for what you have and not comparing to others, always think about one thing that you are grateful about. For me, to know that my family in a good condition is my greatest gratitude, that's simple.

Have a good day. :)

Solid Gratitude

In the end of 2015. I am thankful for the courage, challenge, happiness and hope this year gave me.

The courage to finally step out from my comfort zone, the work place I dedicated for 7 years. Left with uncertainty of having a future job and for being a 4 months jobless. 

The challenges I had for getting a new job. 13 times interviews was so little compare to others, but it didn't stop me, it made me more curious. 

The happiness I've got for being a full time mother for a whole 4 months. Extremely happy as once I thought to stop searching a new job and instead to be an entrepreneur mom. So happy to have the opportunity to manage my time well in order to juggle the roles as wive, mom and me as an individual. Enjoying life like those childhood memories.

The hope this year gave me. The hope that God will always be there for me no matter what. The hope that God has set up everything for me according to His plans, that is the best.

Thank you 2015.

Cheers!

10 FAKTA MENYUSUI

Dibuang sayang. Sebenarnya ini adalah postingan yang udah lama banget ada di draft blog saya, karena belum sampai 10 fakta ya sayang bgt kalo gak dilanjutin. Ini adalah fakta-fakta dari pengalaman saya dan observasi langsung di lapangan mengenai ibu menyusui. Semoga bisa membantu ibu-ibu baru yang sedang dalam proses ini dan jika ada yang mau menambahkan boleh tinggalkan komentarnya yah. 
  1. Untuk ibu dengan pengalaman anak pertama yang ingin memberikan asi eksklusif kepada bayi mereka, program laktasi yang diadakan di beberapa rumah sakit sangat penting manfaatnya, tidak hanya kita bisa dari awal melek ilmu pengetahuan tentang menyusui,tetapi memiliki teman-teman seperjuangan di program tersebut sangat menumbuhkan semangat juang (bagi beberapa ibu, menyusui adalah perjuangan di medan peperangan).
  2. Membaca  beberapa artikel tentang menyusui, mengikuti akun tentang ibu dan bayi dan gabung di grup jejaring sosial sangat membantu ibu untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa percaya diri karena sudah memiliki pemahaman tentang seluk beluk menyusui.
  3. Membandingkan diri anda dengan ibu lain,atau lebih buruk mendengarkan suara sumbang dari sekeliling anda sendiri akan menimbulkan stress. Sensitivitas tinggi yg dihasilkan oleh ibu yg baru melahirkan  menyebabkan produksi asi terhambat.
  4. Ukuran payudara, puting dan ukuran tubuh tidak serta merta menjamin banyak sedikitnya produksi asi ibu.
  5. Semakin sering asi anda di butuhkan bayi, asi terpaksa menghasilkan lebih lagi. Ibu dapat menyusui bayi dua jam sekali atau jika tidak memompa/ memerasnya.
  6. Kebanyakan ibu di era lalu bahkan tidak mengetahui manfaat penting yg diberikan asi terhadap bayi mereka, yg mereka tahu hanya praktis dan ekonomis. 
  7. Minum air yg banyak,makan sayur bening dua mangkok sehari,minum susu,minum vitamin menyusui membantu menghasilkan produksi asi.
  8. Pikiran positif, perasaan bahagia, dan makan yg banyak dilansir alasan utama produksi asi melimpah, namun maksud dari pikiran positif itu sendiri adalah sabar dalam menjalani proses menyusui.
  9. Menyusui adalah aktivitas yang melelahkan pada awalnya namun setelahnya merupakan aktifitas yg addictive, ada sesuatu yg dirindukan ibu, jika bayinya tidur terlalu pulas.
  10. Kekuatan pikiran berperan sangat besar untuk ibu menyusui, setiap pikiran yg ibu pikirkan berulang-ulang akan secara ajaib terjadi, baik itu pikiran positif dan negatif.
Aktivitas menyenangkan bersama anakku, MJ. 


Lullaby... uploaded to ig: mshunz cc: Henry 'Jentidz' Siagian Meta Gultom Siska Daulika Gultom
Posted by Hanny Gultom on Sunday, July 27, 2014

Speechless



I found and I dug deeper,
found the Master plan,dug the inner self of me..

A special place,
to touch one's heart and get touched
to see beautiful human being,
a fragile soul,
a lost soul,
to be able to be with them,
to listen.

Every problems, difficulties they may encountered,
were actually teaching me.
To be human,
To be sincere.

Got so many loves,
the loves that I will never get,
If I didn't give mine.
Got so many loves,
The loves that I will never get,
If i didn't give my attention,
my care.

Thank you for everything,
I'm looking forward to touch,
and get touched by another soul
in another place.

Lotta Loves,

ms. hunz




A light conversation..

" Mah ini tadi papah beli minuman dingin, abis kasihan sama kakek-kakek yang jualan di jalanan tadi. "

Was, is, will


Life is a struggle dear baby,
like the first time you struggled to compete and won the race in mommy's womb..
Life is a struggle dear baby,
like the first time when mommy and you had to stand inside the full bus,
while no one noticed us and we had to struggle to stay strong..
Life is a struggle dear baby,
during mommy's thesis writing you cooperate well enough and we have worked out this together..
Life is a struggle dear baby,
let's have fun with it.

Love,

Mommy

A story of a girlfriend..

"to my bestfriend .., It's hard to hate you even when i want it so bad..." 

I put this line in front of my skripsi page, the acknowledgement part.
Yes, it's kindda compliment, a paradox one.
We've been friends for as long as I couldn't remember. We have so many ups and downs, many are downs in our girlfriend relationship. We are such two different human being. We don't know what tied us. Yet, maybe only God's knows.

We started of being a friend in 2004. The first day we met on our students' orientation. She was the "it" girl from Kediri, everyone noticed her for her beauty both face and brain at a first place. Such a confidence and talkative young girl. We were apparently in the same group, and yes she dominated the group, she led us in the group performance and taught us to dance. Our group name was The 6th with the jargon "Mendongkrak Popularitas" and yes we won the best group.
She and I were in the different class, but somehow because of that last group performance we became a gang, a smart gang. We became close, she liked to stay in my house so did I. We talked a lot, shared a lot. I have learnt a lot from her, A LOT. To know our differences, to know her life, opened up my eyes. That the world that we live in is not that small it's HUGE. 

We have so many downs, our differences sometimes put us in our downs moments. I didn't understand her, neither did she. We've been raised in a completely different family, so our thought sometimes distracted with such difference. But again, we would get along again without no one helped us. Not only our thoughts, but the character, yes our character was so different. She was a free-spirit girl, I wasn't, more like indifferent kind of girl and again, we knew that it has been our life affected our character, then we settled the difference and got along.

It's so mysterious. There's a time when we didn't talk at all for two months when she was in the US for her scholarship, she sent me only one short email telling me she was fine. that's it. It was for me, a sad moment,where i felt like losing my best friend. I hated her that day. She went back to Jakarta and I felt not the same. She knew that and she apologized, she gave me a lot of reason where i knew it's not that it. Then we got along again.

Love. She had complicated love stories, she told me a lot about it. It was so complicated since she was actually a complicated kind of girl too. Her love stories were so amazingly sophisticatedly one of a kind. We gave each other advices a lot in this love part. She knew my husband so much that she would give me the best advice for my love's problem at that time. She is one of the person who taught me about true love. 

The downs actually continued when she suddenly had to get married in her young age on her 23. She suddenly moved to out Kediri again. I knew this for her own good. I went there to Kediri to attend her marriage. After the marriage we didn't talk for quite a time. Even when we had each other's number. She is the girl that need some time for herself, so I let her for it. 

To cut a long story short.

We got along again for I didn't know when and why. We had our bbm pin and from then, slowly but sure we talked a lot again like we used to. She and her husband and her son attended my wedding party. She flied to Jakarta with her 3 months pregnant. I felt so blessed and happy. 

Talking about the second child she has. This is the saddest part. At the first time she told me a big secret, I was soo shocked in a second of time. She told me that the baby would go to her husband's brother family who have been marriage for seven years and not having a baby. I was like what's on earth! But I knew my vey best friend, she is the one who knew what decision she made. She told me with a very strong reason. She had already made a promise with God and she would never break it. So, from the first month untill last monday, March 17 20014, I kept this secret even to my husband and accompanied her through bbm. We talk a lot and again I learn an unconditional love from her.

The second pregnant was so tough for her, not only mentaly but physically. She had to do caesarean becuase of an infection on her womb, it killed her for two months to feel the pain. As soon as I got the news from her and the picture of the little Christabel, I sobed and cried. It's so heart touching moment and knowing that my very best friend decided not to give breast-fed her and let the little girl fly to Surabaya with her new family a day after the birth made me more histeriously cried. I would not let her know this as she was the one who was actually the saddest person on earth. She texted me that everyone in the room's operation cried, husband and parents. She was the one who didn't cry and encouraged them.

It will never enough to write it down in a single post, as I have so many things to learn from her, but most about being grateful for a new life God has given us, about unconditional love, about sharing happiness, about knowing our limit, about having faith.

I love you so much dear friend,


Hunz