Showing posts with label PEOPLE. Show all posts

Stella Sutjiadi : Ibu Pembelajar

Tidak terasa ya sudah dua bulan lebih program work from home ini berjalan  dan tidak terasa pula anak saya MJ sudah memasuki minggu ke 9 belajar dari rumah. Setiap minggu MJ akan selalu diberikan lesson plan dari sekolahnya, isinya berupa materi apa yang akan diajarkan setiap hari berikut soal soal yang harus dikerjakan. Jujur walau saya guru, tidak mudah mengajari anak sendiri. Mungkin konsep saya mengenai pendidikan bisa diterapkan, tapi kesabaran saya tidak bisa diadaptasikan.. :), karena sepertinya anak saya lebih mudah mendengarkan gurunya ketimbang saya, begitu pula mungkin beberapa anak murid saya lebih mudah mendengarkan saya ketimbang orang tua mereka.:) Oleh karena itu saya amazed banget sama ibu ibu yang sebelum pandemi ini ada pun sudah mengajari anak anaknya full di rumah, karena percayalah itu tidak mudah!
Salah satu Ibu yang saya kagumi namanya Mba Stella Sutjiadi, Ibu dari dua anak perempuan ini, Daffa (8) dan Laluna (4), menceritakan keseharian mereka dalam setiap postingan yang ada di media sosial Instagram. Dalam postingan tersebut mba Stella sering mensharingkan bagaimana Ia memfasilitasi anak anaknya belajar, dari akademis sampai non akademis, dari membaca, menulis sampai belajar musik dan seni. Kegiatan yang mereka lakukan sangatlah beragam dan terlihat kesiapan mba Stella dari segi materi yang Ia akan ajarkan ke anak anaknya. 

Setelah memberikan 5 pertanyaan ke mba Stella dan membaca penjelasan yang dia berikan, menurut saya mba Stella adalah tipe Ibu yang jujur, apa adanya dan tidak menjudge dan merasa metode or pilihan yang dia jalani benar. Dalam dunia parenting or motherhood yang "keras" ini, tidak sedikit yang merasa metode mereka lebih baik dari yang lain atau merasa paling benar dan hebat.  Saya percaya semua metode yang di adaptasikan itu mempunyai background dari keluarga masing masing yang tidak kita ketahui, begitu pula lingkungan ataupun sejarah keluarga yang terbentuk. Jadi balik lagi, membangun keluarga dan bagaimana menjalaninya adalah mutlak pilihan masing asing individu, tetapi itu semua balik ke pribadi masing masing dan seberapa besar tanggung jawab kita ke anak anak yang sudah dititipkan ke kita.

Langsung aja yuk di simak interview singkat saya bersama dengan Mba Stella Sutjiadi. Semoga bermanfaat!

1. Mba Stella, sebelum Pandemi ini mba Stella sudah menerapkan Pembelajaran Home Learning ke anak anak Mba Stella di rumah, kalau boleh tau, apa saja sih yg dibutuhkan ibu ibu untuk mempersiapkan anaknya benar benar belajar di rumah? boleh share sedikit tipsnya…

Menurut aku harus dari yg paling dasarnya dulu yaitu menyamakan persepsi ttg proses belajar itu sendiri. Bahwa belajar bukan melulu berarti pergi ke sekolah. Bahwa belajar adalah sebuah ‘proses’ bukan sebuah ‘tempat’. Karena seringkali buat mereka yg terbiasa belajar di sekolah formal terlanjur mengkotakkan bahwa ‘belajar itu di sekolah sedangkan di rumah bukan untuk belajar’. Aku tidak bilang semua ya..tp sebagian besar demikian. Tujuannya supaya mindsetnya sama dulu bahwa belajar tidak tergantung tempat jd bisa dimana saja dan kapan saja. Rumah pun tempat kita belajar. :) Lebih dalam lagi, maka ditanamkan pemahaman bahwa setiap saat itu sebenarnya adalah kesempatan kita buat belajar. Goalnya adalah sama2 meyakini bahwa belajar adalah kebutuhan diri bukan sekedar kewajiban mengejar nilai semata. Tapi kebutuhan kita buat mengembangkan diri. Kalau sudah paham pengertian dasar serta tujuannya, harapannya kemudian akan muncul semangat serta inisiatif untuk belajar itu sendiri. :)
Tentu saja semua harus disampaikan dg bahasa yg disesuaikan dg usia dan kemampuan pemahaman masing2 anak ya. :)

2.Memang seorang Ibu itu harus berkorban, dan semua pengorbanan kita tidak ada yang sia sia, apalagi saat melihat anak anak kita berkembang dan bertumbuh menjadi pribadi yang utuh. Bagaimana menurut Mba Stella “pengorbanan” seorang Ibu?

Saya memilih tidak memandang dan merasa ini sebagai sebuah ‘pengorbanan’. Bukan berarti saya bilang siapapun yg memandangnya demikian adalah salah. Ini pendapat saya pribadi mudah2an ada yg sepaham. Buat saya kata ‘pengorbanan’ berat artinya dan akan membuat saya pun merasa ‘berat menjalaninya’ apapun itu. Lagi-lagi pendapat ini sangat pribadi. Saya lebih memilih untuk memupuk kesadaran bahwa sejak awal menjadi ibu adalah pilihan saya, memiliki anak adalah keputusan yg saya buat secara sadar. Maka semua yg saya lakukan saat ini seberat apapun itu adalah bagian dari tanggung jawab saya menjalani keputusan saya tsb. :) Dan ternyata saat saya menanamkan pola pikir demikian, semuanya jd terasa lebih mengalir ringan. Rasa capek tentu ada, tapi saat sadar itu telah tumbuh, semua yg dijalani menjadi terasa wajar dan baik-baik saja. Jadi bukan tentang pengorbanan tapi tentang tanggung jawab pada keputusan yg telah saya ambil sendiri dan rasa syukur atas jawaban dari doa saya sendiri. :) Jadi tips saya : coba gali lagi apa dan kenapa sejak awal kita dan pasangan memutuskan untuk memiliki anak. :) Apa tujuan awalnya dan apa goal akhir dari membesarkan anak kita ini? :)

3. Sebagai seorang ibu yang Full time job, bagaimana mba Stella menyeimbangkan kehidupan Mba Stella, seperti apakah mba Stella punya “Me Time”? Atau bagaimana pendapat Mba Stella tentang “Me Time”nya seorang ibu.

‘Me time’ hmm..saya share sedikit pendapat dari seorang ahli parenting yg sangat saya kagumi. Saat beliau ditanya demikian, beliau jawab kira2 begini “apa sebenarnya konteks me time yg ditanyakan? Apakah kalau ada istilah ‘me time’ maka sisa wkt diluar itu artinya ‘not my time’? Siapa yg memilih memiliki rumah ini? Saya. Maka saat saya bekerja membersihkannya, itu adalah ‘me time’ saya. Siapa yg memilih memiliki anak? Saya. Maka saat saya sibuk memandikannya, menemaninya belajar, bahkan menc*b*kinya (maaf ya..) itu adalah ‘me time’ saya.” Sampai sebelum saya mendengar ucapan ini dari beliau saya masih kesulitan sendiri menyimpulkan apa me time saya. Saya masih sempat ‘mengkotak2an’ me time saya misalnya saat di pagi hari saya sendiri, atau saat saya punya wkt luang membaca buku sendirian, atau saat sesekali saya bisa pergi sendirian. Tapi...saat saya mendengar itu, saya langsung merasa, hei, Inilah konsep me time yg cocok ternyata dg hati saya. Ya. Semua itu adalah ‘me time’ saat itu adalah pilihan kita yg kita pilih secara sadar maka semua kegiatan yg berkaitan dengannya harusnya masuk dalam bagian ‘me time’ saya. :)

4. Bagaimana Mba Stella menerapkan kedisiplinan ke anak anak? 

Aku menerapkan disiplin dg dasar ‘cinta yg berpikir’ (mengutip judul buku karangan mba Ellen Kristi) :) cinta yg tidak hanya dilandaskan pada rasa sayang semata tp jg pada kesadaran menegakan nilai-nilai kebenaran untuk kebaikan. Kebenaran yg landasannya hanya 3 : hukum negara, agama dan sosial. :)

5. Bagaimana pendapat mba Stella tentang pendidikan di Indonesia? dan alasan utama mba Stella memilih home schooling? 

Kalau menilai pendidikan di Indonesia rasanya aku belum pantas memberikan penilaian disini mba. Karena aku ngga mendalami ttg pendidikan di Indonesia saat ini secara menyeluruh. Hanya tau sebatas pengalaman masa lalu aku jg suami yg aku yakin dg banyaknya pilihan sekolah saat ini pasti sudah ada/mungkin bahkan banyak perubahannya/kemajuannya.

Aku hanya bisa menjawab alasan kami memilih homeshcooling. Sebenarnya alasannya ada banyaaak sekali. Tapi semoga 5 alasan ini bisa mewakili :
  • 1. Dengan hs anak2 punya banyak keleluasaan waktu untuk mengembangkan minat dan bakat yg telah dititipkan pada mereka yg unik dan berbeda-beda.
  • 2. Karena saya dan suami sepakat bahwa sekolah formal itu bukan sebuah kewajiban dan proses belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.
  • 3. Karena aku ada di rumah setiap saat sehingga aku sadar aku punya wkt cukup untuk mendampingi anak-anak belajar.
  • 4. Karena aku percaya bahwa untuk menjadi guru2 anak2 aku tidak wajib sangat pintar hanya wajib untuk mau terus belajar. :)


Nina Moran : A Visionary and Resilience Woman


I stumbled upon her Instagram account and saw an insightful commandment speech that she made to Atma Jaya 2016 graduates, as she was one of the alumni and also a former lecturer at the university. That video connected me to her and thankfully I've got this to opportunity to be able to ask her few questions related to the video.

After having that interview I have some takeaways for me :
1. Being an Introvert with a high D personality (Dominance) doesn't make you less better than the extrovert with such a lively personality (made or natural one) until you can understand and accept who you are! Be who you are! 
2. As you have a powerful vision in your life, it's just like a mantra, it will keep you up and up and up again even you fails a lot!
3. Though you are strong, you still need someone to help you. It's okay to be weak to be strong. 

You can also get some takeaways that you really need now by watching her video link , blog link and the interview below. Hope you enjoy!
-----
1. How my parents raised me to face challenges and difficulty in life
By talking to us a lot about it. Whenever they are sad, brokenhearted by failure, they shared their feelings in life. Sometimes they don't handle it well, but after some time, they would tell us, that they were wrong, and told us how to handle things better. Of all the things they told us, i remember more of they didn't say. I remember what i witnessed. I saw that no matter how hard life beat them down, they always face life with so much bravery. They cried and broken down so many times, but up until now, i never see my parents don't try to come back up.
I wrote this 2 years ago.

I witnessed my dad failed and went back again
Failed harder and then built himself up again.
I saw him cried, several times,
specially when his hard work went down to pieces.
I witnessed these, many times over.
His examples made me feel okay to fail
and then try again.
He showed me,
No matter how long it took to gather strength,
to build and rebuild again,
to do whatever it takes to get up again 
and provided for our family,
you just do it.
I learned that,
above all,
Always count on God.

2.The difference between the majority Millenials and the older yet still young leader in the company?
I have found that millennials, even the exceptional ones, still feel so entitled of everything. Like they have the right to everything, yet they forget about the duties that they to pay to get their rights. Like giving real contributions before asking for a promotions.
They think very highly of themselves based on how smart and talented they are. But they discounted the value of experience. I have to apologized so many times over how rude or so less tactile my staff were when they were handling clients. you see, they want the big responsibilities, handling big clients, but don't have the finesse to understand what the client wants and needs. Those things takes time to develop and they are very disrespectful and impatient about it, that they missed the whole point of work, which is to deliver the best quality of work for our clients. 
That being said, i have found several millennials, that are more promising than the rest, and they are willing to learn and live the process. But sadly, these people are rare, and they are not the general population. Let's hope this will change soon.

3.The toughest experience that i have to face
So many of them. please see my blog www.inspirepreneur.blogspot.com i am pretty candid about my struggles there. 

Right now, I'm suffering from loneliness. I have friends, great friends. But my entrepreneur friends mostly are extroverts, and they can't relate to why certain things hurt me more than it should. How some things takes a longer time for me to recover from. How several things, like talking in public still make me shake like crazy before i go up to the stage. I love what i do, but sometimes, it's just a little too much for introverts like me. I'm also very awkward and don't know how to be around people, plus i'm a high D person, who don't know how to be fun and likeable. I say the wrong things and people think that i don't like them. So, as you can imagine, being who i am, a public speaker, an entrepreneur who needs to be in a lot of conferences and public gatherings, i get very anxious and scared almost most of the time. I value people's feedback, that's why i respected people who commented on my blog or my videos in my youtube channel. I used their feedbacks to train myself to get better and not so anxious anymore.

4. Can a perspective be changed?
Absolutely. you need to surround yourself with different people, read different books, watching different videos, edit the people you follow, edit your friends, edit the music you hear, edit the things you allow to enter your world, edit the influence you allow into your life both online and in real life. The questions is not whether you can change your perspective or mindset or not. It is a decision whether you want to change them or not. When you decide you want to, nothing can stop you.

5. What do i want to be remembered as?
As someone who made an impact in people's lives. no matter how small. i want my life to matter. i don't want my life to be an accidental living. I truly, deeply care about empowering others. To lift them up, even if it's just in one moment in time. I want to be able to make people feel good about who they are, i want to show them that they can, ACHIEVE MORE, BE MORE than they ever believe. It's my calling. My life's purpose. It's what i'm here for.

Golda Regina Purba : A Soulful Teacher

This week Inspiring People is my nowhere friend, Golda Regina Purba. Happened to see her pictures with her students in Papua, made me wonder how this 23-year-old girl,a teacher as well as the owner of Rumah Kita, spend her life there. She also documented her journey on a blog --> here.


Kenalin dong sedikit tentang diri kamu.
Halo, nama aku Golda Purba. 23 tahun, anak ke-3 dari 4 bersaudara. Lahir dan besar di Medan. Pindah ke Karawaci - Tangerang untuk kuliah selama 4 tahun, lalu sekarang melayani di Sentani-Papua sebagai guru kelas 1 SD. Di waktu senggang aku suka menulis untuk blog juga menulis surat dan kartu pos untuk dikirimkan ke sahabat pena aku baik dalam maupun luar negeri. Tapi dalam waktu yang singkat pun, tetap berkabar dengan orang tua di Medan, karena anaknya tidak terlalu kuat untuk bisa menahan rindu, haha.


Kenapa bisa mengajar di Papua? 
Bisa mengajar di Papua karena tuntutan program beasiswa yang aku jalani semasa kuliah dulu. Salah satu bentuk kompensasi baliknya yaitu bersedia di tempatkan di sekolah mana saja oleh yayasan pemberi beasiswa. Hmm, waktu selesai wawancara penempatan, yakin 50% aja bakal di Papua. Sempat percaya diri 100%nya sih ke Kupang walaupun dalam wawancara itu ngga nyebutin kota manapun. Kemarin aku hanya bilang, "Kalau dekat, dekat sekalian dengan Medan. Kalau jauh, ya jauh aja sekalian." Ngga nyangka kalau jauhnya, memang jauh banget. Untungnya belum sampai harus pakai paspor sih, hehehe.

Apa sih Visi dan Misi kamu berada di sana?
Visi saya hidup untuk memuliakan Tuhan. Misi hidup saya adalah membagikan apa yang Tuhan sudah beri dalam hidup saya agar bisa menjadi berkat buat orang lain. Salah satunya adalah lewat Rumah Kita.

Bisa ceritain gak anak - anak yang kamu ajar di sana?
Bisa banget! Hehe. Anak- anak di sini sangat menghargai guru sekali. Gimana sih rasanya dipanggil dengan lengkap "Ibu guru Golda" daripada hanya sekedar Ibu atau Ms/Mr. Rasanta adem-adem gimana gitu, susah diungkapkan dengan kata-kata. Dan ucapan itu tulus banget dari hati mereka. Sebagai guru kita pasti paham mana yang keluar dari hari mana yang hanya karena terpaksa. Di sini (papling tidak yang aku alami sendiri) hubungan antara guru dan murid itu udah kayak keluarga tapi tetap dalam batasannya. Jadi, anak-anak juga tidak bertindak sesukanya hanya karena merasa sudah "dekat". Dan karena anak-anak di sini tidak hidup dengan gadget (tapi bukan berarti mereka gaptek), jadi mereka benar-benar  masih polos. Polos banget sampai kadang udah di atas pohon aja untuk ambil sirsak atau giawas (jambu). Tidak pilih-pilih makanan (ini penting, hehe). Aku terharu sekaligus bangga banget sama anak-anak asli Papua atau dari luar Papua yang warna kulitnya benar-benar kontras berbeda tapi mereka kompak banget.Aku ga pernah sih dengar keluhan mereka saling menyalahkan suku sama lain. Pertemanan mereka asyik bgt, tulus dan gak neko-neko. Anak-anak di sini pemberani. Tangkap kecoa? ketika aku udah teriak sambil lari kebirit-birit, mereka dengan santai dan mudahnya tangkap itu. Asli, gagal move on saya dengan mereka.





Berapa lama di sana? dan apa yang bikin kamu balik ke sana?
Kalau sesuai kontrak penempatan sih di sini akan 3 tahun, berarti 2018 kontrak saya berakhir. Yang bikin balik salah satunya pasti karena community service yang aku dirikan Selain itu, "keluarga" di sini yang nggak bakal bisa dilupain dan selalu ada rindu untuk mereka. :)

Rumah Kita itu apa dan untuk apa?
Rumah Kita itu pelayanan pendidikan informal yang aku dirikan bersama dengan kepala sekolah tempat aku mengajar. Alasan awalnya sih karena kita udah ngga tahu gimana caranya "mengusir" anak-anak kompleks yang datang ke sekolahan yang lama-lama mulai merusak berbagai fasilitas sekolah. Kita mau bina hubungan yang baik dengan mereka dan kita pikir dengan membentuk rumah belajar ini bisa pelan-pelan merubah karakter mereka jadi lebih baik dan juga menambah wawasan mereka. Selain itu kita juga rindu anak-anak asli Papua (maupun yang besar di Papua) bisa berbahasa Inggris karena di sini tidak banyak kursus bahasa Inggris. Kalaupun ada, tempatnya jauh dan biayanya mahal. Pemerintah Papua banyak banget memberikan beasiswa ke luar negeri untuk putra/putri Papua, hanya saja mereka tidak difasilitasi dari dini. Dan kita juga mau anak-anak Papua sadar bahwa pendidikan itu penting dan mereka lah nantinya yang akan bangun Papua itu sendiri.





Apa sih yang perlu anak - anak muda Jakarta tahu tentang anak-anak Papua?
Anak-anak Papua terlihat keras di luar, tapi di dalam ramhanya bukan main. Anak - anak muda Papua ngga kalah pintar dan kreatif kok sama anak dari Jakarta.

Pengalaman yang paling mengharukan buat kamu?
Duh banyak. Selain semua interaksi dengan murid di sini mengharukan, tapi kalo dari sisi lain mungkin yang paling berbekas ketika waktu itu kecelakaan motor, orang mabuk sekalipun nolongin. Bahkan ketika di posisi sadar tidak sadar begitu, jiwa sosialnya kuat banget.

Motto hidup kamu apa?
Selalu mengucap syukur. Semua orang punya berkatnya masing-masing.

Dalam 1 kalimat, kamu mau dikenal menjadi orang yang seperti apa?
Takut akan TUhan dan turut dalam rencanaNya.




New Category : Inspiring People

In my old blog I used to have this category of Inspiring People. I would like to have a little interview about them asking about their life journey. My very first interview was with the late superb composer Bonar Gultom, a very sudden live interview; then went to Diana Rikasari, Dalton Tanaka, Agan Harahap, and so on and so on. Opung Bonar, as I called him, loves my writing and he didn't want me to stop writing, and yes the reason why I won't stop to write. So, in my next post I have already interviewed one of the young and soulful teacher I've known. Will keep you an update for my next post. Have a good day. :D