Showing posts with label HOLIDAY. Show all posts

2 slices of bread, a cup of coffee and so many distactions

My body still waking up at a normal time hours even though it is a holiday, sorry not a holiday, but THE holiday. This is the time that I am waiting after a full school year, they called it a well-deserved break. 

But my first week full of organising, cleaning up stuffs and helping my sister who got sick because of the dengue fever. And this is my first time who really can do a self reflection and contemplation because I am too tired and overwhelmed. Not too mention the plumbing problem that made so much effort to do the dishes and laundry. The reason why is that, I did all the things by my self. I don't want to be drained too much. I need to slow down and take a step back for all the 'small things' that happened, it is surely small I need to be smart to find the solution.

The distractions here came from so many aspects, many areas, many ways. I don't know how important is to manage distractions, this skill right here, I hope to teach my children to learn it earlier. The easy distraction comes from how easy is to get the things that we enjoy, a one way click of watching a 40 episode of Netflix, a finger tips of strolling down the lane your Warriors Championship story, your willing to add more skills in to your resume, dealing with deadline, helping husband to build brands, thinking of how to lose weights while other things like dealing with daily house hold chores, what to cook or even order for today, what to play with my children and also how to support my husband in every way. 

I know I need to push the pause button. I need to step away and look from outside. What should I do things differently, I still need 7 weeks before the school start. This post is a big matter. I hope to share a good thing for the next post.

Love


hunz

Bangkok day 2 (Royal Grand Palace)

THE ROYAL GRAND PALACE - Wat Po - Siam Ocean World - Madame Tussauds - Siam Square

Tempat tempat di atas adalah objek wisata yang saya jadwalkan untuk perjalanan hari ke 2 kami di Bangkok. Dari kelima tempat di atas, hanya satu tempat yang tidak jadi kami kunjungi yaitu Wat Po. Kami memutuskan untuk tidak mengunjungi Wat Po karena kami menghabiskan waktu lebih lama dari rencana sebelumnya di Royal Grand Palace dan hampir dari kami sudah kelelahan setelah berkeliling di sana. Walau Wat Po tidak jauh dari Royal Grand Palace, yang mungkin kalau di lihat di peta bertepatan di sebelahnya, namun untuk menuju ke sana kita harus berkeliling untuk masuk ke gerbang masuk Wat Po.

The Royal Grand Palace
Dengan tiket masuk sebesar 500 Baht, di sini kita akan mengelilingi satu komplek Istana Bangkok pada jamannya yang terdiri dari berbagai macam kuil-kuil khas Bangkok. Jika ingin mengetahui sejarah Bangkok yang ada di sini, Anda bisa membaca brosur yang sudah tersedia dengan gratis atau bisa menambah uang 200 Baht untuk menyewa personal audio guide dalam berbagai bahasa. Saya dan keluarga banyak menikmati pemandangan di sini dengan mengabadikan momen bersama di kuil kuil dengan arsitektur unik yang ada di sana. Karena ramainya pengunjung, disarankan untuk datang lebih pagi agar bisa santai berfoto foto. Tempat ini buka dari pukul 08.30 - 3.30 sore.
 
Jika datangnya kesiangan.. ^0^

Umumnya karena Bangkok juga adalah negara yang panasnya seperti di Jakarta juga, jangan lupa memakai topi atau payung, lotion pelindung sinar matahari dan membawa botol minum untuk pelepas dahaga. Di sana juga akan tersedia counter air isi ulang gratis, jadi tidak perlu khawatir jika kehabisan air minum di tengah tengah perjalanan Anda. 

Yang penting untuk diketahui adalah walau terik, kita tidak diizinkan untuk memakai pakaian seperti celana pendek ataupun lengan buntung untuk pria dan wanita, peraturan ini di buat untuk menjaga kesucian dan kesopanan di area tersebut. Namun jika sudah terlanjur memakai celana pendek ataupun lengan buntung, ada satu tempat khusus buat wisatawan membeli celana panjang dan baju berlengan untuk lelaki atau rok dan scarf untuk perempuan, harga masing-masingnya kira-kira sekitar 150-200 baht.

Transportasi, karena jaraknya yang lumayan jauh dari tempat kami tinggal dan juga pengalaman berkendara sebelumnya, kami menggunakan Uber berukuran van Travello/ Pregio yang muat untuk 10-12 orang dengan harga 400-500 Baht, sesuai dengan jarak tempuh yang dituju. Namun, kita tidak bisa dengan mudah turun sembarangan di areal sekitar pintu masuk the Royal Grand Palace, selain karena luasnya area screening Royal Grand Palace dari kendaraan kendaraan umum agar wisatawan bisa dengan leluasa berjalan kaki, tapi sepertinya juga karena kendaraan Uber tidak disambut hangat oleh transportasi lain.
Ada seperti pos check in di luar pintu masuk the Royal Grand Palace

Untuk postingan selanjutnya saya akan melanjutkan cerita di Bangkok day 2 untuk ketiga tempat lainnya yang kebetulan berdekatan letaknya.

Bangkok Day 1 (Itinerary Break Down)


Itinerary Day 1
Sekali lagi Itinerary yang saya buat ini, seperti tempat wisata, transportasi, dllnya yang ada di notes di atas yaitu dengan pertimbangan lokasi tempat tinggal dan kondisi keluarga yang ikut serta dalam perjalanan ini.
Untuk pembuatan Itineray ini, saya tidak pakai aplikasi khusus apapun, hanya membuat dengan menggunakan google spreadsheet saja karena tidak ribet untuk disimpannya dan sederhana penggunaanya. Hampir semua poin pada hari pertama ini sesuai, hanya ada satu yang hilang karena kendala yang nanti akan saya ceritakan. 
Saya dan sekeluarga tidak bisa ke Asiatique the Riverfont karena gap waktu yang molor lumayan panjang saat kami miss berkendara saat turun dari Airport menuju tempat tinggal kami di The Local Surasak Hostel. Kami membagi dua grup dengan alasan penghematan biaya. Grup pertama adalah 5 grup orang dewasa yang menaiki bus lalu lanjut dengan BTS dan satu lagi grup orang tua dan anak kecil yang menaiki taksi dengan sekali transportasi saja. Masing masing grup sudah punya leadernya sendiri dengan booklet itineray yang sudah kami pegang masing-masing, yaitu saya memimipin grup orang tua dan anak, dan suami saya di grup satunya. Jadi grup suami saya sampai terlebih dulu di hostel, sedangkan grup saya nyasar dengan banyak aspek sebagai penyebabnya.
Saya dan keluarga, minus adik saya yang di balik layar.
1. Kendala bahasa
Kalau mungkin grup 1 (anggap saja saya grup 2), hanya tinggal mengikuti arahan yang ada di booklet dan pun mungkin jika ada miss sedikit, bisa ada banyak informasi yang di dapatkan, misal dari informasi yang ada di papan jalan, papan bis, ataupun seperti yg diceritakan suami saya, saat dia bertanya ke orang lokal di sana yang bisa berbahasa Inggris. Jadi, mereka tidak punya kendala bahasa yang significant seperti grup saya. 
Di benak saya mungkin semua pengemudi taksi yang berani mengambil penumpang di bandara, adalah mereka yang mumpuni bahasa Inggrisnya, or at least bisalah dikit dikit seperti orang kita di Jakarta, tetapi ternyata ohhhhh tidak, kemampuan berbahasa Inggris saya di hancurkan ke level terbawah yang pernah saya jalani sewaktu mengikuti les bahasa inggris di LIA Mercu Buana (sorry I am being exaggerate saja di sini).
Misal si pengemudi menawarkan naik tol atau lewat jalan biasa saja, karena sang pengemudi tidak bisa memilih perbendaharaan kata dari jalan tol ke bahasa Inggris, dia hanya bilang "This way? or no? setop setop, (diikuti dengan body language..) then said again "setop setop, ya?" It took me like almost 10 minutes to really grasp the meaning of this important word that he really stressed it over and over and over again.. setop setop.
Actually what he meant was that "Would you like to prefer the normal way or the high way, since it was so damn stuck if we didn't choose this way."
Setop = Stop = Traffic
That's just literally one real example of how I had this language gapped in this important conversation. I was with my 3 elders and 2 kids and I was alone and a little bit much of stressful at the very end.:)
2. Kendala geografis
Pastinya ya kalau di tempat baru kita sama sekali buta dengan lingkungan yang ada, walau ada google maps or satelite sekalipun, kalau kita bahkan tidak tahu patokannya saja, tidak bisa menjamin perjalanan kita mulus. Ini terlepas dari kendala bahasa yang di atas ya, tantangannya jadi lebih lagi. 
3. Kendala of being the one who supposed to know
Ini sih karena kurang pengalaman aja, jadi  kalau di kondisi begini aspek stressnya ada, apalagi bawa 3 orang tua dan 2 anak dan saya sendiri yang harus bisa diandalkan.
Nah untuk mengurangi hal hal yang tidak diinginkan seperti saya di atas, saya punya tips buat Anda yang saya dapat setelah mengalaminya :
1. Gunakan Google Translate
Seriously, kalau sudah menempuh berbagai cara, berusaha untuk mengerti dan tetap tidak ada jalan keluar, gunakanlah google translate. Karena penggunaan google translate walau mungkin tidak sepenuhnya grammatically correct, tapi hampir akurat dengan pesan yang akan disampaikan. Karena sesungghnya kita tidak bisa mengharapkan bahkan memaksakan mereka untuk bisa berbahasa Inggris, jadi mulailah menginstal applikasi google translate untuk hal ini.
2.  Google Map
Walau kita tidak benar-benar tahu lokasi yang akan kita kunjungi, tapi dengan mengetahui berapa jauh, atau benarkan jalur yang diambil pengemudi membuat kita setidaknya ada pegangan, jadi kita tahu di mana posisi kita berada saat kita sudah mencari lokasi tempat tinggal yang akan kita tuju.
3. Jangan Panik
Penting sih untuk tidak panik saat nyasar di negara orang, apalagi akan tidak bagus jika kepanikan kita tertular ke pengemudinya. Waktu pengalaman saya, lebih panik si pengemudi yang tidak tahu jalan dibandingkan saya. Dough!
4. Internet Connection
Mengganti sim card kita dan mengaktifkan paket telfon dan internet di negara yang kita tuju sangat penting juga, kalau tidak, tidak akan ada poin satu dan dua di atas.
5. Fully Charged!
Tidak adalah gunanya poin 1, 2, 3 jika Anda tidak mengisi penuh batre telephone Anda, apalagi jika hanya Anda satu-satunya di grup yang mengaktifkan paket telfon dan internet! Wajar kalau Anda akan panik berjuta juta panik jika Anda tidak bisa menghubungi grup lain bahkan landlord yang punya hostel. Jadi?? gimana dong kalau itu terjadi? Itulah yang saya rasakan sebenarnya, heheh, tapi saya tidak menyerah walau supir taksi kami menyerah. Sang supir dengan tidak bertanggung jawabnya menurunkan kami, tapi usaha saya adalah, "711 please, 711 please". Komunikasi dua kata itu  sangat besar perannya demi kelangsungan perjalanan kami. Kami diturunkan di 711, lalu saya mengisi kembali paket data dan internet di telfon salah satu anggota keluarga saya dan lalu saya bisa berkomunikasi dengan suami saya di grup lainnya yang sudah sampai di hostel dan kami dengan selamat dan bahagia dan lelah, lalu beristirahat di the tempat penginapan kami.
Saya akan melanjutkan perjalanan kami pada day 2-5 di postingan selanjutnya. Terima kasih!

Membuat Itinerary Perjalanan bersama keluarga

Photo by rawpixel.com from Pexels

Ini kedua kalinya saya membuat sebuah itinerary perjalanan ke luar negeri bersama keluarga besar. Pertama kalinya saya pergi ke Hongkong dan membuat itinenari pertama yang saya ceritakan di sini, dan Maret tahun ini saya dan keluarga pergi ke Thailand, Bangkok yang menghabiskan waktu 5 hari 4 malam ini. Dengan pergi bersama 3 orang tua (di atas umur 60 thn), 1 balita dan 1 anak, dan 5 orang dewasa lainnya sangatlah perlu bagi saya membuat rencana sebaik mungkin untuk perjalanan yang menyenangkan yang dapat dirasakan semua pihak.

Berikut adalah hal hal yang perlu diperhatikan sebelum membuat itinenarinya.

1. Peserta yang ikut
Dengan memprioritaskan keadaan dan kondisi peserta yang ikut, kita harus mempertimbangkan tempat wisata apa yang akan kita kunjungi dan transportasi yang di akan gunakan kala kita di sana. Poin nomor satu ini penting buat saya sekeluarga, karena kami berpergian dengan rentang umur dari balita hingga orang tua, jadi kami memiliki berbagai aspek yang bisa sesuai untuk semuanya.

2. Transportasi
Transportasi adalah hal yang penting untuk juga dipikirkan, karena selain dapat membawa kita ke tempat tempat yang kita tuju, kita harus paham benar dengan segala transportasi yang ada di negara yang akan kita kunjungi. Karena sekali lagi, tidak bisa disamakan berpergian sendiri atau backpacker dengan keluarga besar yang hanya mengharapkan kita si pembuat itinerary untuk paham betul keadaan yang ada di negara tersebut. Karena sangat berbeda transportasi negara satu dengan negara lain, jadi informasi kecil yang sangat membantu bisa dicatat di kolom tambahan itinenary Anda.

3. Memilih tempat pariwisata
Dengan pertimbangan poin nomor satu di atas, saya memutuskan untuk menghindari tempat tempat wisata dengan ketinggian dan juga objek wisata pantai. Dengan membaca banyak rekomendasi dari teman teman blogger, website pariwisata Bangkok, dan juga share dari teman-teman, saya memilih beberapa tempat pariwisata yang sangat berdekatan jarak tempuhnya untuk dihabiskan dalam waktu satu hari.

Cara yang paling mudah, jika tidak ingin ribet ini itu, bisa saja mencontek langsung itinerary teman - teman blogger atau website wisata yang sudah banyak disharingkan di dunia maya. Tapi kalau mau puas, alangkah baiknya jika kita membuat sendiri itinenari kita dengan mencocokkan prioritas kita, budget kita dan juga lebih penting jarak tempuh masing masing objek wisata dari tempat peristirahatan kita.

4. Makan dan minum
Tentunya waktu Anda makan dan minum juga harus dimasukkan ke jadwal itinenary. Terlebih jika Anda tidak membawa bekal untuk seharian menghabiskan waktu di tempat objek wisata. Saya harus meresearch tersedianya tempat makan yang terdekat di antara objek wisata dengan tentunya memperkiraan budget makan untuk satu menu makanan dan minuman. Dan untuk teman teman yang mencari makanan halal di negara lain yang mungkin sangat jarang ada, harus tahu mencari rekomendasi makanan halal atau mempersiapkan bekal dari hotel.

5. Tempat tinggal 
Biasanya lebih murah memilih hostel untuk tempat tinggal dengan peserta yang banyak, karena akan lebih hemat perhitungannya. Dan untuk memilih tempat tinggal, kita harus teliti memilih rekomendasi dari website penyedia jasa tempat tinggal. Membaca kolom komentar juga sangat berguna karena sekali lagi kita bisa mendapatkan informasi tambahan yang mungkin tidak disediakan di informasi profile hotel/hostel yang kita pilih. Jangan lupa untuk melihatnya langsung di google satelite jika tempat tersebut terdaftar di google. Kita bisa memperkirakan keadaan tempat di sana sebelum kita sampai, misalkan seberapa jauh dari jalan utama dan berapa luas jalannya jika berada di pinggiran kota. Ini sangat penting untuk memperkirakan jarak tempuh setiap berpergian jika memang harus berjalan kaki sebelum ke jalan utama ataupun jika lebih memilih transportasi Uber apakah bisa dilewati mobil atau tidak.

Menurut saya 5 hal di atas adalah hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam pembuatan itinenari dan di postingan berikutnya saya akan memberikan contoh itinenary yang saya buat untuk perjalanan saya ke Bangkok selama 5 hari 4 malam. Juga menjelaskan bagaimana aplikasinya di sana. Terima kasih teman teman, semoga dapat membantu.


Perjalanan Pertama ke Hongkong (2016) - The End

Lingkungan dan Budaya
Keluar dari Bandara, kami langsung di suguhi dengan pemandangan yang rapih dan bersih. Bandara International Hong Kong berada di Lantau Island bersama dengan Disneyland. Selama melewati pulau ini dengan bus, aktivitas yang kami lihat tidak terlalu ramai dan penduduknya tidak sepadat di daerah Kowloon tempat kami tinggal. Di Kowloon walaupun bangunannya terlihat kumuh tapi semuanya terlihat sangat teratur.
Keteraturanya terlihat saat mereka menyebrang jalan dan mengantri menaiki escalator yang banyak terdapat di stasiun MTR. Untuk menyebrang jalan banyak dari mereka yang sabar menunggu lampu hijau menyala dan jika di escalator mereka akan secara otomatis berjejer di sebelah kanan dan memberikan jalan kosong di sebelah kiri untuk mereka yang terburu-buru menaiki tangga jalan tersebut.
Di sana, budaya mereka terkesan cuek dan kurang ramah, mungkin karena kesibukan mereka. Tapi yang paling saya salut dengan adanya penghargaan terhadap orang-orang tua, atau senior citizens. Selain memberikan tarif yang berbeda untuk setiap biaya tempat wisata atau alat transportasi,  mereka juga memberikan fasilitas yang lebih baik, seperti tempat duduk, tempat tunggu dan bahkan pintu masuk atau keluar setiap stasiun dibuat lebih nyaman dibandingkan yang lain. Hebatnya lagi justru orang-orang tua separuh baya ini tidak (ingin) terlihat tua dan lemah, karena banyak juga yang masih berkondisi prima dan berdiri di MTR.
Makan dan Minum
Kehidupan kuliner di Hong Kong kurang sesuai dengan yang kami harapkan, tidak hanya karena biayanya yang mahal tetapi juga selera makananya. Awalnya kami pikir Chinese Food di sini akan banyak dan seenak di Jakarta, tetapi ternyata tidak. Di sana juga jarang di jumpai nasi, bahkan di restoran siap saji seperti McD dan KFC. Kalaupun bertemu dengan nasi di sana, paduan lauknya tidak cocok dengan lidah kami. Sampai disana kami menyesal kenapa tidak membawa beras, indomie, kopi dan teh, karena pada akhirnya di sana kami membeli kopi, teh, indomie, beras bahkan ikan teri dengan harga yang lumayan mahal. Sepertinya untuk makanan di sana kebanyakan non Halal, jadi jika ingin mendapatkan yang halal selain membawa makanan sendiri dipastikan juga googling restoran-restoran dengan sertifikat Halal di sana.

Airport
Untuk ke bandara jika dari tempat kami di Yau Ma Tei Nathan Road lebih baik naik bus A21, jangan lupa untuk menunggu bus di bus stop yang ada di pinggir jalan, tinggal di lihat nomornya saja. Bus A21 ini memang suka penuh kalau menuju bandara, tetapi lebih baik berdiri dan tidak dapat tempat duduk dari pada harus naik MTR. Karena kalau naik bus A21 sekali saja langsung berhenti di terminal bandara, sedangkan kalau naik MTR selain kita harus gotong-gotong tas dan koper kita, kita harus pindah kereta dan juga harus melanjutkan lagi dengan naik bus, selain capek dan lama, harganya juga lebih mahal. Kalaupun misalkan naik MTR, kita harus turun di terminal terakhir di Tung Cung lalu lanjut naik bus S1 dan berhenti di terminal bandara. Bandara Internasional Hong Kong sangat luas, bersih dan nyaman. Luas sekali, jarak dari tempat imigrasi dan check in lumayan jauh, terlebih karena tempatnya berada bersamaan dengan toko-toko besar di sana, seperti Mall di Jakarta, bahkan lebih besar. Jangan kaget juga karena untuk ke tempat keberangkatan kita harus naik turun kereta terlebih dahulu. Saya dan keluarga harus pindah dua kali kereta menuju Gate keberangkatan kami. Jadi disarankan jika sudah check in lebih baik langsung ke Gate keberangkatan. Pengalaman kemarin, kami harus lari terbirit-birit karena kami terlalu terlena dengan bandara di sana. Belum lagi perbedaan jam di Indonesia dan di Hong Kong yang selisih satu jam, jadi kami tidak sadar dan tenang-tenang saja. 

























Next Post :
Tempat Wisata di Hong Kong

Perjalanan Pertama ke Hong Kong (2016) - Part 2

Setelah melakukan persiapan untuk perjalanan ke Hong Kong, saya juga belajar hal-hal berikut dibawah ini yang saya dapat sebelum dan sesudah perjalanan saya ke sana.

Letak Geografis
Hong Kong itu terbagi menjadi 4 pulau, yaitu Hongkong Island, Lantau Island, New Territories dan Kowloon. Awalnya saya bingung sekali saat membaca tempat - tempat wisata yg berada di beberapa pulau yang berbeda, bagaimana waktu dan jarak yang diperlukan menyeberangi antara pulau. Ternyata sangat berbeda jauh dengan di sini, karena walaupun berbeda pulau waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Sistem transportasi mereka di sini sangat baik dan belum lagi adanya MTR yang memudahkan perjalanan kami di sana.

Transportasi
Salah satu transportasi yang banyak digunakan penduduk Hong Kong adalah MTR; kereta express yang bisa membawa kita kemana saja bahkan menyebrangi pulau dengan menggunakan Octopus Card. Kartu ini bisa di beli di Bandara seharga 150 HKD untuk dewasa, 70 HKD untuk anak- anak di atas 3 tahun dan senior citizen (2016). MTR itu kalau di sini hampir mirip dengan Trans Jakarta, tapi bedanya kita tidak perlu kena macet dan tidak perlu menunggu lama untuk menunggu kereta berikutnya datang. Dari stasiun ke stasiun hanya membutuhkan waktu 3 menit saja. Awalnya mungkin sedikit bingung dengan sistem MTR di sana, karena banyaknya pintu keluar, ada Exit A, B, C, D atau E. Tapi dengan adanya papan petunjuk untuk setiap Exit dan Customer Services sangat membantu jika dalam kesulitan. Hampir sama juga seperti Trans Jakarta, walau kita salah berhenti stasiun asal kita tidak keluar pintu kita masih bisa melanjutkan perjalanan tanpa kena biaya dua kali. Jika kita kehabisan balance untuk Octopus Card bisa mengisinya di toko-toko kecil seperti 711, selain itu kartu ini hanya bisa dipakai untuk satu orang, jadi kalau teman kita kehabisan balance, kartu kita tidak bisa dipakai.


Bus; saat dari Airport menuju tempat tinggal kami di Kowloon, kami menggunakan bis A21. Bis di sana semuanya bertingkat dengan CCTV, layar dan pemberitahuan pemberhentian bus, dan tombol stop di bagian atas atau samping tempat duduk. Di sana setiap bis sudah punya pemberhentiannya masing-masing, jadi mereka tidak bisa berhenti sembarangan. Begitu juga kalau kita ingin menunggu bis, harus di bus stop dengan nomor yang tertera di tiang kecil di pinggir jalan.


Kalau taksi di sini semuanya sama warnanya, sepertinya milik pemerintah. Dan kami selama di sana tidak pernah naik taksi karena setahu kami harga taksi di sana mahal.

Tempat Tinggal
Di Hong Kong kami memutuskan untuk tinggal di apartment di daerah Nathan Road, Yau Ma Tei. Setelah browsing, ternyata harga hotel di sana mahal dan untuk luas sama sempit dengan tinggal di apartemen. Selain itu kami sengaja memilih apartemen karena di apartemen yang kami tinggali ada dapur yang isinya lengkap dengan kompor, kulkas, oven, teko pemanas air, mesin cuci dan tempat cucian piring. Di sana kami bisa masak nasi dan mencuci baju kotor. Apartemen yang kami tinggali dimiliki oleh Wing, di daerah Nathan Road #509. Hospitalitynya sangat baik, kami di jemput saat turun dari bus stop dan apa yang di presentasikan di website tidak berbeda dengan aslinya. Belum lagi tempat kami tinggal dekat dengan stasiun MTR yang hanya menempuh 1 menit jalan kaki. Guest host kami juga menyediakan Wifi gratis di apartemenya yang speednya tidak perlu di ragukan lagi. Wing juga memberikan respon yang cepat dalam setiap pertanyaan kami. Jika berminat bisa lihat profile Wing di https://www.airbnb.co.id/users/show/26936781.

- To be continued to Last Part
 (Lingkungan dan Budaya, Makan, Komunikasi, Airport)



Perjalanan Pertama ke Hong Kong (2016) - Part 1

Liburan tahun ini saya dan keluarga pergi ke Hongkong untuk pertama kalinya. Walaupun tiket sudah kami beli sebulan sebelumnya, namun persiapan yang saya lakukan baru seminggu sebelum keberangkatan kami. Persiapan yang paling utama selain packing adalah menyusun rencana perjalanan (itinerary, red). Terlebih karena kami membawa anak dan orang tua kami, itinerary ini sangat penting untuk gambaran kami dalam perjalanan.

Itinerary
Sebelum menyusun rencana perjalanan, karena kami traveling bersama keluarga, saya dan suami bertanya kepada orang tua kami tempat wisata seperti apa yang ingin mereka kunjungi. Ini adalah satu hal penting yang harus dipertimbangkan untuk traveling bersama, karena kita ingin semuanya senang dan puas. Jawaban dari mereka adalah wisata yang murah dan tidak membahayakan dan tentu saja tempat berbelanja.

Selain membuka http://discoverhongkong.com sebagai situs resmi Hongkong, saya juga banyak membaca blog blog travelers yang sangat membantu pembuatan itinerary ini, karena cerita mereka sangat details sampai suka duka mereka di sana. Banyak sekali tempat wisata yang bagus-bagus yang ingin saya pilih, tapi prioritas di atas memudahkan saya menyeleksi tempat wisata tersebut, Jadi, Disneyland, Ocean Park, Ngong Ping 360. ^_^

Dan satu lagi, Google Maps sangat membantu sekali dalam perkiraan waktu atau jarak tempuh atau letak tempat tinggal kami dari wisata yang akan kami kunjungi. Belum lagi Google Maps dengan teknologi satelitnya yang bisa berapa dimensi itu. How lucky we are!

Ini adalah gambaran Itinerary saya selama di sana, kami menghabiskan 5 hari 4 malam perjalanan.

Packing
Saya dan suami hanya membawa perlengkapan seperlunya, seperti kami muda dulu, minim. Tidak ribet ini itu. Tapi karena kami membawa anak kami Marshall yang baru berusia 1 tahun 11 bulan, semua perlengkapan dia saya bawa semuanya, seperti :
1. Pampers 1 pack
(Katanya anak-anak di sana sudah dibiasakan berhenti menggunakan pampers setelah umur 1 tahun jadi untuk pampers ukuran besar di sana susah di cari).
2. Obat-obatan
(Sebelum berangkat ke Hongkong MJ sedang batuk keras, jadi kami membawa obat-obatanya juga, termasuk Viks)
3. Peralatan Mandi
(Sabun, sikat gigi, odol, bedak, minyak telon, sisir)
4. Susu
(Saya membawa susu MJ satu pack dan saat pulang hampir habis)
5. Botol Minum, Gelas Susu , Tempat makan, sendok
6. Selimut, Jacket Hangat, Topi (2 untuk siang dan malam), Kaos Kaki, Pakaian tidur (2), pakaian pergi (5 sets) dan baju ganti (3)
7. Termos Panas untuk buat susu
8. Kaca Mata Hitam (Karena di sana hampir sama panasnya di Indonesia)
9. Sapu tangan handuk (3)
10. Mainan MJ
(Ini dimaksudkan untuk MJ kalau bosan di pesawat dan karena MJ sangat senang nonton kartun dan video drum jadi sebelum berangkat saya download semua kesukaan dia, walau kenyataanya MJ tidur terussss dan dia akhirnya digunain pas di Apartment)
11. Earphone
(Sebagai pelengkap buat dengerin lagu MJ dan pengganti earplug, karena maskapai Air Asia tidak menyediakan earplug buat anak-anak)
12. Biskuit kesukaan
(MJ selain tidur di Pesawat dia juga ngunyah terus, jadinya bagus juga untuk kuping dia biar tidak terlalu pengang)



*to be continued to Part 2

Liburan Murah di Ragunan


HALLO 2016!

"More Travel and Vacation with family" adalah salah satu list di resolusi saya tahun 2106 ini.
Kemarin bertepatan dengan ulang tahun MJ yang ke 1.5 tahun saya dan sekeluarga pergi ke Taman Margasatwa Ragunan, Pasar Minggu. Saya memilih kebun binatang karena memang tujuanya adalah untuk memperkenalkan MJ dengan binatang-binatang lain selain kucing, anjing, burung, tikus, cicak, kecoa, semut yang biasa dia liat di rumah. MJ sangat tertarik dengan binatang dan dia tidak takut dengan binatang yang bahkan baru dia liat. 

Awalnya memang rencananya saya sekeluarga akan pergi ke Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor. Namun apa daya karena adanya misskom dalam hal budgeting pergilah kami ke Taman Margasatwa Ragunan. Hmm. Salah satu lagi resolusi saya di tahun 2016 ini, Financial Budgeting. (snap!). :P

OK, bahagia itu emang sederhana dan tidak mahal. Dengan Rp.4.000,- per orang kami sudah bisa masuk menikmati luasnya 30 hektar tanah di Ragunan dan serunya lagi untuk anak 3 tahun ke bawah tidak perlu membayar untuk tiket masuk. Dengan harga masuk yang sangat murah, memang yang ditawarkan di sana sangat minim. Dalam setiap komplek binatang, binatang yang ada hanya sedikit dan kebanyakan dari mereka banyak yang bersembunyi (Jangan-jangan mereka masuk kantor, canda kami).  Berbeda dengan TSI yang di mana pengunjung di "kurung" dalam mobil, di Ragunan, binatang-binatanglah yang di kurung dalam kandang mereka. Jadi, mereka tidak bisa bebas seperti teman-teman mereka di TSI yang diciptakan seperti habitat asli mereka. Namun, kebahagiaan yang kami rasakan kemarin adalah saat melihat MJ senang melihat binatang-bintang tersebut dan saat kami harus berjalan hampir 5 km x 2 bolak balik sambil bercerita dan bercanda gurau. Dua keadaan di manapun kita berada is worth priceless.
Selain murah, kami juga memilih Ragunan karena letaknya yang tidak jauh dari rumah. Perjalanan sehari yang tidak melelahkan buat MJ dan sepupunya. Karena kami sengaja memilih weekdays, perjalanan kami melalui tol kurang lebih membutuhkan waktu satu jam saja. Berangkat pukul 10.30 dan sampai di rumah pukul 16.00 wib. Dalam waktu 3 jam kami sudah puas mengunjungi beberapa komplek binatang dan yang tidak ketinggalan tempat yang wajib didatangi yaitu Schmutzer Primate Center dengan tiket masuk Rp.6.000 per orang dan gratis untuk anak umur 3 tahun ke bawah.
Sebelum berangkat ke Ragunan, mungkin ada beberapa TIPS dari pengalaman saya kemarin yang bisa dipertimbangkan.
1. Gunakan alas kaki senyaman mungkin, karena memang hampir sebagian besar cara untuk mengelilingi kebun binatang adalah dengan berjalan kaki.
2. Bawalah botol minum sendiri dari rumah. Selain kita memang membutuhkan banyak minum, saat masuk ke Pusat Primata Schmutzer kita tidak diperbolehkan membawa botol minum plastik masuk ke sana. Di sana akan disediakan water fountain jika kita membawa botol minum sendiri seperti tupperware.
3. Untuk orang tua dipastikan agar stamina kakinya kuat. Jangan sampai mereka sakit dan kelelahan berjalan kaki.
4. Jika memang ingin lebih hemat, bawalah makan siang dan tikar dari rumah.     Karena memang di sana tempatnya sangat rindang dan banyak lahan untuk beristirahat bersama keluarga. Jika memang lupa membawa tikar, mereka akan menyewakan tikar dengan harga Rp.10.000,-.
5. Sebaiknya untuk yang kulit sensitif menggunakan lotion anti nyamuk atau membawa minyak kayu putih, karena untuk beberapa tempat banyak nyamuk yang bersarang di sana.

Semoga bermanfaat and see you in the next soon post, hopefully! :D