MJ dan Bahasa #1


Dari jaman kuliah mau banget dokumentasiin bagaimana MJ menguasai bahasa lain selain bahasa ibunya. Dalam hati bisa dijadikan case study dengan subjectnya adalah MJ. Well, terealisasi atau tidak, yang penting dokumentasinya tetap jalan. Sudah hampir sebulan ini MJ mulai aktif menggunakan bahasa inggris saat berbicara dengan saya dan papanya, karena perkembangan dia yang significant jadilah saya tertarik untuk menuangkannya kedalam post saya kali ini.
photo by @helloquence
Ada beberapa poin yang bisa saya tulis tentang bagaimana MJ belajar bahasa asing dan perkembangan yang dia raih.

Awalnya
Saya memang memilih agar MJ fasih berbahasa indonesia terlebih dahulu baru mengajaknya belajar bahasa asing. Kenapa demikian? karena saya tidak ingin dia bingung akan bahasa yang digunakan (banyak baca saat di kuliah dulu) dan juga karena tahu bahwa anak-anak mempunyai daya serap yang sangat tingg sampai di usia emasnya, jadi saya tidak takut kalau MJ ketinggalan untuk belajar bahasa asing.

Yang saya lakukan
Sembari MJ belajar bahasa ibu dengan baik dan benar, saya sedikit demi sedikit meng ekspos bahasa asing ke buku bacaan yang saya bacakan ke MJ dan pada TV dan Youtube video yang dia tonton semenjak MJ kira-kira berumur 1 tahun. Saya menunggu saat MJ sudah dengan sendirinya mengajak saya berinteraksi bahasa asing ke saya dan papanya. Itu terjadi hampir sebulan lalu dan melihat perkembangan dia yang secara otodidak dia pelajari sangatlah mengagumkan.

Apa yang sudah dia pelajari 
MJ sudah sering menggunakan kalimat penuh, bahkan frase, perbendaharaan kata dan ungkapan yang dia ambil sendiri dari lingkunganya. Lucu sekali setiap dengar celotehan dia yang dia sadur dari tontonan yang saya tahu dan kebanyakan dari satu film favoritnya, "Blaze the Monster Machine." Ungkapan seperti "Oh man!, Oh well.. , count with me, I like this, Up and Down," karena suka menemani MJ menonton jadi saya tahu dari mana asalnya MJ menambah perbendaharaan katanya.
Untuk vocabulary makanan dan buah-buahan sering dia dapat dari "Max and Ruby." seperti "Pizza, strawberry, pie, apple." Mungkin karena si Max suka makan ya jadinya banyak muncul kata-kata tersebut. MJ juga sudah mulai bertanya "Mom what's this?" "Mom kalau rumah apa?".  Sama seperti anak-anak yang lain yang peka akan sebuah lafal, MJ juga pernah mengoreksi cara bicara seseorang.

Lalu?
Saya akan terus melanjutkan tulisan saya dan melihat perkembangan MJ berikutnya dan mungkin saja bisa dijadikan sebuah tulisan akan bagaimana MJ belajar bahasa asingnya. Semoga saja ya. :)

Renungan di siang bolong

Tersentak mendengar kabar yang sangat menyentakkan. :) Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata lah pokoknya. Sedih, bingung, kecewa tapi sebentar. Tidak lama dan tidak mau lama, karena saya langsung merubah persepsi saya dan mengingat bahwa yang saya lakukan hanya berdoa untuk kebaikan mereka. Jika pun tidak terjadi, saya merenung kenapa tidak saya mendoakan lagi tentang kebaikan mereka kalau memang saya dengan tulus mendoakan mereka setiap hari. Saya tahu Tuhan punya rencana lain untuk mereka, saya pun tahu, tiada yang mustahil bagi orang percaya. Sekian renungan saya di siang bolong ini. Terima kasih.

Refleksi di Pagi Hari


Selamat pagi pemirsa, saya harap Anda bangun pagi pagi dan tidak kesiangan, terlebih untuk ibu-ibu, segerakan bagun pagi agar bisa memulai aktivitas sebelum anak anak dan suami Anda bangun. Karena kalau mereka sudah bangun Anda akan tahu mengapa.

Saya akan mengangkat tema Refleksi di Pagi Hari. Kenapa? Karena saya sangat meyakini pentingnya refleksi di pagi hari. Ada 3 manfaat yang akan saya sampaikan ke Anda, dan khususnya untuk para ibu sekalian.

Membangkitkan semangat di pagi hari. Refleksi yang baik dalam membangkitkan semangat itu bukannya baca email pagi pagi untuk urusan kantor, or kepoin Instagram orang yang ujung-ujungnya bikin kesel or iri, bukain Youtube yang berujung dari klik ke klik ke klik sampai sampai membuang waktu. Refleksi di pagi hari yang memangkitkan semangat tentu disesuaikan dengan kepribadian dansselera Anda. Ada yang berdoa, ada yang yoga, sepedaan, ada juga yang hanya minum teh dengerin lagu dan membaca buku. Ini untuk ibook-ibook wajib banget ini menurut saya, supaya tidak alasan alasan "I need my meeeee time." (steal it mom!)

Poin yang ke dua adalah hari Anda akan terencana setidaknya untuk satu atau dua hal. Memang ada banyak orang yang sangat suka spontanitas dan tidak suka keteraturan, but well hey, sespontanitas2nya dan setidak suka keteraturanya mereka, pasti mereka punya satu atau dua hal yang ada di kepala mereka yang ingin mereka kerjakan dalam satu hari itu. So, bagi kita yang suka keteraturan or memang pelupaan, yuks kita rencanakan pagi kita. Misal menuliskan things to do seperti.
1. Jangan lupa ambil jahitan
2. Hari ini beli ....
Bisa di tulis di  notebook kecil, di hp or di board khusus sendiri.

Dan manfaat yang terakhir tentu saja hari kita akan terasa berarti. Hari dan waktu kita tidak terlewat begitu saja, karena ya "waktu tidak bisa tergantikan dan tidak bisa terulang." Kita hanya bisa menyesal telah melewatkan sesuatu, lupa dan repeat. :P

So okay pembaca yang budiman, sekian sharing saya tentang manfaat Refleksi di pagi hari, jika Anda punya kegiatan lain boleh share di comment bellow.  Selamat beraktivitas semua semuanyaa...

5 Minutes Talk

I was in the middle of listening to what Jim Kwik  said about the Power of Morning Routine, so many things that were right and it struck me of how easy people got depressed nowadays and the top reason for that is they compare themselves to others by seeing others' people "feed" (life, red). They tend less satisfied and grateful. How quick we are feeling sorry for our lives and judging that their life is happier, better, cooler and so on and so forth. I had that feeling too sometimes, but then I aware that was just my fake emotions or feelings then I stop and I think about my happy family, the reason that I always feel grateful and happy. Yeps, we need to have some awareness and some thing to be grateful about so that you will not dragged by this social sickness that made by us. Morning people.

This too Shall Pass

Days before my labor, I was very insecure. The feeling arose not because of the delivery that would be due soon, but for the intimate time that my son and I have would end up soon. I was so sorry for my son for the change that he would face, might changed him too. I read many articles about it and asked for an advice from best friend, and they all came up with one single conclusion, This too Shall Pass. I was like, Really? That's it? no formula, no explanation, no guide book? I was like, hmmm okay.

In the first month, I was living in a roller coaster situation, I just want to cut my body in two, that's how bad the situation was since I just wanted to give my whole self  to both of my children. The times where I have to take my son to bath and the baby girl was crying for milk, and when I have to change diapers and my son just want to play puzzle only with me. I cried a lot and sometimes when i couldn't handle it anymore, unintentionally I transferred that negative energy to my son. :( :( :(

It took me a month and a half to really understand the situation. It's not just my son that I should take care of, but also me, myself. I need to adapt myself for the change itself. I just put too much focus on MJ, how he should be nice to his baby, and so on and so on, but when I realise that the key was in me, made it become easier for me to handle the situation.

If I could give some advice to the other moms, who especially have an active son like mine that use to get full of my attention, I would say...

YOU NEED HELP
Yes, you need help for the first week or even the first month. I know that we want to be full to both of the kids, but in some cases you can't. You couldn't breastfeeding while your first kid want to play with you right? how can you handle that? You need someone or something to distract him, putting him on a gadget is easy way but not so recommended. You can turn on the Disney Jr or ask him to play with other kids, just distract him. If you don't have a helper, you should think creatively about that, I sometimes, let my son to mess up the house.

YOUR FIRST KID WILL DRAWN YOUR EMOTION BADLY
This is a swift situation where they would be no longer the only one who got all eyes. They will do anything to get your attention, even when they have to slap their little baby, as all they know that the baby is your focus now. Even when you already told him so many times about the good things of becoming a brother or taking care of the baby, still he doesn't understand. It's merely because he doesn't want to. I realized that my son is just a kid, who might be smart but not mature enough to understand the change. Never make your first child as the bad guy here, as they are absolutely not.

YOU and YOU
You need to embrace the situation, where :
1. Your first child will ignore you some of the times (as he/she felt the same way too)
2. You will no longer able to be there around her/him fully.
3. You are also in the adaption mode, embrace the chaotic feeling.
4. You couldn't cut yourself into two for both of the children. :P
5. You will cry a lot and that's okay. Breath in breathe out. #hugs

I hope this post will help mommies out there who have the same struggle like mine. Though it won't lift up your heavy situation for now, but at least will give you an enlightenment that you are not alone.

I know, In the end this too shall pass right mommies?! But make sure that you pass it for granted, alright. Cheers to the moms out there who are giving their self, their best for their children. #MOMMAHOOD


Kehamilan Kedua


Bersyukur sekali di kasih kesehatan dan kelancaran sebelum akhirnya cuti lahiran sebelum due datenya. Berbeda dengan kehamilan sebelumnya, kali ini saya merasakan eneg di awal-awal semester pertama sehingga saya jadi malas makan dan berat badan saya cenderung turun. Banyak yang tidak sadar kalau saya sedang hamil karena berat badan yang tidak naik secara signifikan; namun barulah di bulan ke 6 dan kebetulan setelah liburan berat badan saya naik sampai 6 kg dalam waktu seminggu dan orang-orang akhirnya sadar kalau saya sedang hamil. :)

Selain itu di hamil kedua ini saya memilih untuk lebih santai dan tidak khawatir yang berlebihan, karena memang selain fokus saya dalam mengurus MJ yang juga menyita kekhwatiran saya, saya juga dapat saran untuk lebih santai dan tenang dari sahabat saya karena memang itu yang dibutuhkan seorang Ibu. Jadilah saya lebih tough dan tidak cranky, karena ya memang tidak ada pilihan lain selain menjadi kuat kan?

Di kehamilan kedua ini juga saya dan Papa MJ sudah mempersiapkan sedikit demi sedikit mental MJ untuk menjadi seorang abang; dari pandangan kita nanti terhadap MJ sampai attachment yang saya buat agar MJ merasakan kehadiran adiknya.

MJ will be a Big Brother but...
Saya dan Papa MJ sepakat walau MJ sudah semakin pintar dan semakin mengerti kehadiran adiknya dia tetap masih anak-anak. Dalam arti, berusaha sebaik mungkin untuk tidak menuntut or memaksa MJ untuk mengerti segalanya. Tidak membiasakan frase yang terus menerus didengungkan di kuping MJ, seperti "MJ kan mau jadi abang, gak boleh cengeng" ,"MJ kasian dong mamanya kan ada adiknya." , "MJ kok gitu sama adiknya, cium dong perut mamanya." , dll. Saya suka mengganti frase saya seperti "MJ, jangan lari-lari dong kalau makan, kan mamah udah endut, udah gede, susah geraknya." Bahkan saat nanti kalau adiknya sudah lahir, kami sudah memikirkan bagaimana cara untuk memperhatikan MJ dan mengajak dia untuk sama-sama involve merawat adiknya. Karena kami yakin in the end he will love his sister naturally. 

MJ with the Baby
Attachment yang saya sebutkan tadi antara lain memperkenalkan MJ dengan adik bayi sejak dalam kandungan. Dari awal kehamilan saya, saya sudah bilang ke MJ kalau di perut saya ada adiknya MJ, karena sebelumnya dia sudah punya konsep itu dari tantenya yang sudah melahirkan anaknya. Jadi menjadi abang dan mengalami berkurangnya perhatian yang terbelah dari opung-opungnya sudah pernah dirasakan MJ sebelumnya. Selain itu saya suka minta dia untuk mencium adiknya setelah pulang kerja atau sebelum tidur, pun kalau dia tidak mau saya tidak akan memaksakan dia. MJ juga sering ajak komunikasi adiknya, "Dede lagi pain?" "Lagi gelak-gelak ma." apalagi saat adik bayinya sudah aktif gerak-gerak di perut saya, dia jadi semakin merasakan kehadiran adiknya. Mencoba membacakan buku-buku bayi ke MJ dan buku-buku anak tentang kemandirian juga salah satu cara, tapi ya memang MJ tidak terlalu tertarik dengan buku-buku tersebut dibandingkan buku lainnya, namanya juga pengenalan tidak perlu harus mendalam kan. 

Persiapan Kelahiran
Walau berbeda gender, saya memutuskan memakai kembali semua barang-barang bayi MJ, karena memang kebanyakan baju-baju MJ warnanya netral dan juga masih bagus-bagus karena selain jarang di pakai saya juga sudah menyimpanya dengan rapih di satu box khusus. Palingan selimut saja yang saya beli berwarna pink, karena selimut bayi MJ masih di pakai sampai sekarang dan dia tidak mau lepas dari selimut itu. Gendongan, botol-botol asi, stroller, tempat tidur bayi dan peralatan lainnya masih ada jadi tinggal merapihkan saja.

Untuk persiapan mental, selain saya berusaha untuk lebih santai dan tenang saya juga tetap ikut senam hamil, biar bugar dan diingatkan kembali cara mengejan dan bernafas yang baik. Selain itu selama saya cuti saya lebih banyak meluangkan waktu dengan MJ dengan banyak mengajaknya berjalan-jalan keluar dan bermain bersama.

Sudah tidak sabar ketemu dede LA, doakan ya semoga semuanya lancar. ya Amin



Belajar Lagi di Usia Tua?

Masih ingat sekali sewaktu SMA dulu saat mengikuti kelas kursus di salah satu lembaga Bahasa Inggris, saya pernah bertemy dengan dua orang spesial di salah satu sesi ujian kenaikan tingkat kami; nenek tua berambut abu-abu dengan usia mungkin 55-60 tahun dan satu lagi seorang pria berkebutuhan khusus yang harus di gendong-gendong karena tidak bisa jalan. 

Walau hanya sekali bertemu, kenangan itu tidak bisa saya lupakan. Menjadi inspirsi dan seangat saya bahwa belajar tidak mengenal usia dan tidak perlu takut akan hal apapun jika memang tekad di dalam jiwa masih sangat membara. Sama juga seperti kisah Beethoven yang tiba-tiba tuli di usia dia yang sudah semakin tua, tetapi masih bisa menghasilkan karya-karyanya yang masterpiece, Vincent Van Gogh contoh lainnya yang merupakan salah satu seniman late blooomer dengan lukisan pertama dia yang terkenal The Potato Eaters (1885) saat dia berusia 32 tahun. Ya, belajar itu tidak ada kata terlambat, itu intinya. 

Tapi kenyataanya saat dijalani tidak semudah yang saya bayangkan. Selama kehamilan kedua ini saya mulai lagi belajar dari nol tentang Art, belajar menggambar dan melukis di media kertas ataupun elektronik. Kesukaan saya di bidang seni sebenarnya sudah ada semenjak saya kecil, masih ingat juga semua buku gambar saya dibagi-bagikan ke teman-teman karena mereka minta untuk hadiah kenaikan kelas, pernah juga juara lomba menggambar tingkat kecamatan karena dipaksa dari sekolah. Singkat cerita semuanya berhenti saat saya memasuki sekolah menengah pertama, dan kegemaran itu saya tidak tekuni sehingga saya berubah haluan menjadi ahli bahasa. Lalu di usia saya yang tidak muda lagi ini, tiba-tiba ketertarikan saya di dunia menggambar dan melukis kembali mencuak lagi saat saya berada dalam lingkungan seni kembali, belum lagi karena tanggung jawab saya sebagai asisten guru seni untuk anak-anak jenjang TK, jadilah saya berusaha kembali memanggil hasrat dan jiwa itu. Kesulitan ini dan itu timbul, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, belum lagi rintangan dari persepsi melihat karya seniman Indonesia yang sudah keren dan memiliki ciri khas mereka sendiri, sampai saya bertanya dalam hati: "Saya maunya apa sih?"

Di ulang tahun ke +1 kemarin saya dihadiahi suami perangkat elektronik yang disebut Wacom. Tangan saya masih kaku sekali menggunakannya, padahal dulu gambar di Paint pakai mouse aja saya bisa (waktu SMP, red). Ahh, memang sepertinya saya harus menggali lebih dalam lagi darah seni yang sudah saya hampir tinggalkan ini, semoga saja masih bisa di gali ya? dan apakah saya termasuk late bloomer seniman Indonesia? hehe.. Mari kita aminkan bersama.















MJ suka intrupsi kalau mamanya lagi gambar dan minta dibikinin gambar-gambar yang dia mau.. :P