Kehamilan Kedua


Bersyukur sekali di kasih kesehatan dan kelancaran sebelum akhirnya cuti lahiran sebelum due datenya. Berbeda dengan kehamilan sebelumnya, kali ini saya merasakan eneg di awal-awal semester pertama sehingga saya jadi malas makan dan berat badan saya cenderung turun. Banyak yang tidak sadar kalau saya sedang hamil karena berat badan yang tidak naik secara signifikan; namun barulah di bulan ke 6 dan kebetulan setelah liburan berat badan saya naik sampai 6 kg dalam waktu seminggu dan orang-orang akhirnya sadar kalau saya sedang hamil. :)

Selain itu di hamil kedua ini saya memilih untuk lebih santai dan tidak khawatir yang berlebihan, karena memang selain fokus saya dalam mengurus MJ yang juga menyita kekhwatiran saya, saya juga dapat saran untuk lebih santai dan tenang dari sahabat saya karena memang itu yang dibutuhkan seorang Ibu. Jadilah saya lebih tough dan tidak cranky, karena ya memang tidak ada pilihan lain selain menjadi kuat kan?

Di kehamilan kedua ini juga saya dan Papa MJ sudah mempersiapkan sedikit demi sedikit mental MJ untuk menjadi seorang abang; dari pandangan kita nanti terhadap MJ sampai attachment yang saya buat agar MJ merasakan kehadiran adiknya.

MJ will be a Big Brother but...
Saya dan Papa MJ sepakat walau MJ sudah semakin pintar dan semakin mengerti kehadiran adiknya dia tetap masih anak-anak. Dalam arti, berusaha sebaik mungkin untuk tidak menuntut or memaksa MJ untuk mengerti segalanya. Tidak membiasakan frase yang terus menerus didengungkan di kuping MJ, seperti "MJ kan mau jadi abang, gak boleh cengeng" ,"MJ kasian dong mamanya kan ada adiknya." , "MJ kok gitu sama adiknya, cium dong perut mamanya." , dll. Saya suka mengganti frase saya seperti "MJ, jangan lari-lari dong kalau makan, kan mamah udah endut, udah gede, susah geraknya." Bahkan saat nanti kalau adiknya sudah lahir, kami sudah memikirkan bagaimana cara untuk memperhatikan MJ dan mengajak dia untuk sama-sama involve merawat adiknya. Karena kami yakin in the end he will love his sister naturally. 

MJ with the Baby
Attachment yang saya sebutkan tadi antara lain memperkenalkan MJ dengan adik bayi sejak dalam kandungan. Dari awal kehamilan saya, saya sudah bilang ke MJ kalau di perut saya ada adiknya MJ, karena sebelumnya dia sudah punya konsep itu dari tantenya yang sudah melahirkan anaknya. Jadi menjadi abang dan mengalami berkurangnya perhatian yang terbelah dari opung-opungnya sudah pernah dirasakan MJ sebelumnya. Selain itu saya suka minta dia untuk mencium adiknya setelah pulang kerja atau sebelum tidur, pun kalau dia tidak mau saya tidak akan memaksakan dia. MJ juga sering ajak komunikasi adiknya, "Dede lagi pain?" "Lagi gelak-gelak ma." apalagi saat adik bayinya sudah aktif gerak-gerak di perut saya, dia jadi semakin merasakan kehadiran adiknya. Mencoba membacakan buku-buku bayi ke MJ dan buku-buku anak tentang kemandirian juga salah satu cara, tapi ya memang MJ tidak terlalu tertarik dengan buku-buku tersebut dibandingkan buku lainnya, namanya juga pengenalan tidak perlu harus mendalam kan. 

Persiapan Kelahiran
Walau berbeda gender, saya memutuskan memakai kembali semua barang-barang bayi MJ, karena memang kebanyakan baju-baju MJ warnanya netral dan juga masih bagus-bagus karena selain jarang di pakai saya juga sudah menyimpanya dengan rapih di satu box khusus. Palingan selimut saja yang saya beli berwarna pink, karena selimut bayi MJ masih di pakai sampai sekarang dan dia tidak mau lepas dari selimut itu. Gendongan, botol-botol asi, stroller, tempat tidur bayi dan peralatan lainnya masih ada jadi tinggal merapihkan saja.

Untuk persiapan mental, selain saya berusaha untuk lebih santai dan tenang saya juga tetap ikut senam hamil, biar bugar dan diingatkan kembali cara mengejan dan bernafas yang baik. Selain itu selama saya cuti saya lebih banyak meluangkan waktu dengan MJ dengan banyak mengajaknya berjalan-jalan keluar dan bermain bersama.

Sudah tidak sabar ketemu dede LA, doakan ya semoga semuanya lancar. ya Amin



Belajar Lagi di Usia Tua?

Masih ingat sekali sewaktu SMA dulu saat mengikuti kelas kursus di salah satu lembaga Bahasa Inggris, saya pernah bertemy dengan dua orang spesial di salah satu sesi ujian kenaikan tingkat kami; nenek tua berambut abu-abu dengan usia mungkin 55-60 tahun dan satu lagi seorang pria berkebutuhan khusus yang harus di gendong-gendong karena tidak bisa jalan. 

Walau hanya sekali bertemu, kenangan itu tidak bisa saya lupakan. Menjadi inspirsi dan seangat saya bahwa belajar tidak mengenal usia dan tidak perlu takut akan hal apapun jika memang tekad di dalam jiwa masih sangat membara. Sama juga seperti kisah Beethoven yang tiba-tiba tuli di usia dia yang sudah semakin tua, tetapi masih bisa menghasilkan karya-karyanya yang masterpiece, Vincent Van Gogh contoh lainnya yang merupakan salah satu seniman late blooomer dengan lukisan pertama dia yang terkenal The Potato Eaters (1885) saat dia berusia 32 tahun. Ya, belajar itu tidak ada kata terlambat, itu intinya. 

Tapi kenyataanya saat dijalani tidak semudah yang saya bayangkan. Selama kehamilan kedua ini saya mulai lagi belajar dari nol tentang Art, belajar menggambar dan melukis di media kertas ataupun elektronik. Kesukaan saya di bidang seni sebenarnya sudah ada semenjak saya kecil, masih ingat juga semua buku gambar saya dibagi-bagikan ke teman-teman karena mereka minta untuk hadiah kenaikan kelas, pernah juga juara lomba menggambar tingkat kecamatan karena dipaksa dari sekolah. Singkat cerita semuanya berhenti saat saya memasuki sekolah menengah pertama, dan kegemaran itu saya tidak tekuni sehingga saya berubah haluan menjadi ahli bahasa. Lalu di usia saya yang tidak muda lagi ini, tiba-tiba ketertarikan saya di dunia menggambar dan melukis kembali mencuak lagi saat saya berada dalam lingkungan seni kembali, belum lagi karena tanggung jawab saya sebagai asisten guru seni untuk anak-anak jenjang TK, jadilah saya berusaha kembali memanggil hasrat dan jiwa itu. Kesulitan ini dan itu timbul, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, belum lagi rintangan dari persepsi melihat karya seniman Indonesia yang sudah keren dan memiliki ciri khas mereka sendiri, sampai saya bertanya dalam hati: "Saya maunya apa sih?"

Di ulang tahun ke +1 kemarin saya dihadiahi suami perangkat elektronik yang disebut Wacom. Tangan saya masih kaku sekali menggunakannya, padahal dulu gambar di Paint pakai mouse aja saya bisa (waktu SMP, red). Ahh, memang sepertinya saya harus menggali lebih dalam lagi darah seni yang sudah saya hampir tinggalkan ini, semoga saja masih bisa di gali ya? dan apakah saya termasuk late bloomer seniman Indonesia? hehe.. Mari kita aminkan bersama.















MJ suka intrupsi kalau mamanya lagi gambar dan minta dibikinin gambar-gambar yang dia mau.. :P

Marshall dan Gadget

Dengan banyaknya artikel yang memuat bahayanya pemakaian gadget bagi anak anak dari usia dini, begitu juga pengalaman yang disharingkan oleh teman, atau bahkan menyaksikan sendiri efek yang dihasilkan dari sebuah gadget terhadap anak yang kita kenal (no social life, for example), sebaiknya itu tidak membuat kita menjadi parno dengan gadget itu sendiri melainkan sebagai orang tua kita dapat menanggapinya dengan bijaksana.

Waktu saya mengajar di sekolah menengah atas, saya sangat prihatin dengan murid murid saya yang tidak bisa menghadapi dengan baik pengaruh dari teknologi bagi kehidupan mereka, karena cepatnya proses masuk teknologi tersebut, mereka tidak dibekali secara khusus oleh sekolah ataupun orang tua mereka dalam menghadapi imbas positif maupun negatif yang dihasilkan oleh penggunaan teknologi, khususnya internet. Oleh karena itu mengajari anak dan memberikan contoh yang baik buat mereka dari kecil adalah waktu yang tepat.

Ketergantungan akan teknologi sebenarnya sudah ada dari saya kecil dulu, contohnya permainan video games yang menurut saya sampai sekarang masih ada, namun bedanya kita sudah tahu konten permainan tersebut dari awal dan hanya penggunaan waktu yang bijak dari orang tua yang harus ditegakkan.

Jadi bagaimana dengan gadget seperti Ipad ataupun smartphone yang menjadi momok bagi orang tua jaman sekarang? Bagaimana kita dengan bijak membantu anak-anak dalam penggunaan gadget yang baik dan tepat sasaran? Karena memang sebenarnya pemanfaatan teknologi yang baik dan tidak berlebihan sangat  berguna untuk perkembangan inteligensi anak. 

Saya akan mensharingkan beberapa tips yang saya terapkan dalam pemakaian gadget di rumah dengan MJ. 

1. No gadget outside of home
Semenjak MJ kecil saya dan papanya tidak membiasakan dia membawa Ipad/Smartphone saat berpergian ke luar. Karena kami ingin memaksimalkan waktu bersama dengan MJ, saat kami keluar kami ingin MJ banyak berkomunikasi dengan kami, juga dengan orang-orang sekitarnya, belajar bersosialisasi dari kecil adalah hal yang penting buat MJ. 

2. Penggunaan gadget di waktu tertentu
Saya dan papanya juga membiasakan MJ untuk memakai gadget saat weekend atau libur saja dan dengan durasi yang sudah ditentukan. Waktu yang ditentukan seiring dengan pertambahan usia dia, sekarang MJ hanya menggunakan gadget paling lama 20-30 menit sekali main. MJ akan berhenti sendiri tanpa saya harus paksa, karena sebelum dia main saya akan menyalakan alarm untuk batas waktunya dan saat alarm berbunyi dia akan menyerahkan gadget itu kepada saya dengan sendirinya.

3. Satu gadget untuk MJ
Saya dan papanya juga hanya memberikan Ipad khusus buat dia untuk bermain atau menonton video. Kami ingin memberikan MJ perbedaan, bahwa kebebasan dia bermain hanya di gadget itu, dia tidak bisa meminta main atau nonton video di handphone saya atau papanya, MJ belajar mengetahui batasan.

4. Pengaturan konten Youtube
Saya merekomendasikan untuk menggunakan Youtube for Kids yang bisa diatur penggunaanya. Dari pengaturan umur, apa saja yang disukai anak, dan paling penting filter semua video yang cocok ditonton untuk anak-anak. Untuk seusia MJ yang belum bisa mencari sendiri video yang dia suka, MJ tinggal melihat atau memilih video video yang berada di home page yang langsung muncul karena sudah sering dia tonton. 

5. Menjadi contoh yang baik untuk MJ
Saya dan papa MJ selalu saling mengingatkan untuk tidak menggunakan handphone berlama lama di depan MJ, pun kalau saya harus bekerja menggunakan koneksi internet, saya akan menggunakan laptop saya dan selalu bilang ke MJ kalau saya sedang belajar atau menunggu waktu yang sesuai untuk menggunakan gadget (biasanya saat MJ tertidur, bermain bersama abang dan kakanya atau sedang asik nonton kartun kesukaan dia)

6. Konsisten
Dari semuanya itu konsistensi adalah hal yang sangat penting untuk anak, karena di usia mereka yang sangat penuh dengan observasi mereka akan sendirinya belajar melihat celah yang bisa diambil untuk mencapai keinginan mereka. Konsistensi hanya dapat ditunjukan dengan tindakan bukan dengan kata-kata yang keras atau marah-marah. 

Mengikuti perkembangan jaman seperti penggunaan teknologi memang penting buat anak-anak, tetapi itu bukan satu-satunya sumber utama anak untuk belajar; anak-anak bisa belajar bercerita dengan orang tuanya, belajar melalui buku, melalui sosialisasi dengan orang lain, menonton kartun anak dan belajar dari kesalahan mereka yang terjadi di kehidupan nyata. Jadi, jangan takut anak anda tidak pintar karena tidak terbiasa dengan gadget,  takutlah jika anak anda menjadi anak yang takut tidak ada gadget. Semoga tips dari Mama MJ bermanfaat. :)

+1

My supervisor asked me yesterday
"Is this your birthday?" 
"Yes.. (with a big smile) 
"and how old are you now? 
"31." 
"Ohhh, you're still a baby, Hanny" said a 60 year old coolest and nicest woman I know.

So, yes, this big baby just celebrated her 31 birthdaaayyy.. 
I feel really young nowww.... ^0^
Happy birthday to me!!
*smooches 
A small healthy treat I made for my students at school

Simplifying Happiness

2016 Had been a year of challenge for my personal identity, the time when I almost doubt my self, my inner self. My heart had been interfered by the things that I saw around me, it's just ridiculously non sense for my life principle. I tried to fight for it not to embrace it at the first place and it put me in a swinging boat for sometimes, but fortunately it didn't drag me too far.  I am awake with the same me and with the clearer sight, thanks to my husband and my best friend who tirelessly remind me who am I actually.

I am pregnant to my second child. I am so happy and bless for our soon-to-be new members of the family in this coming April or May. I almost thought would deliver her (yes, she!) soon as I felt my water little leaking, thank God it was just a watery discharge. During this second pregnancy, I try to make connection with the baby through his big brother, MJ. My husband and I want to make sure that both of them are well attached from the beginning. I thank God that big brother MJ already noticed his little sister existence and aware that he will become a big brother soon.

In the next coming week, I will say hello to the early 30. :). It's so funny that at this time I felt like a really learner again from the beginning, I realised that all of this time I'm not a good learner and finally figured it out how to be one; empty your bottle (head).

For me simplifying happiness means by looking deeply for what you have and not comparing to others, always think about one thing that you are grateful about. For me, to know that my family in a good condition is my greatest gratitude, that's simple.

Have a good day. :)

Perbandingan dua hari : Cerita Selesai

Besok, besok kalau cerita saya tidak mau bersambung lagi,

Karena moodnya sudah beda dan saya juga sudah males nulis. Begitulah kalau menulis catatan harian, ya harus hari itu ya. (maaf). Intinya saya merasa betapa bedanya dua hari itu berjalan, kemarin saya sangat spontan, ringan dan tidak berlebihan; sampai-sampai saya bingung sendiri, kemanakah saya yang biasanya berlebihan, panik dan serius. Tapipun keesokanya saya menjadi seperti umumnya saya, yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Well, untungnya karena hari kemarin itu saya sempat berefleksi, jadinya semuanya jadi sedikit seimbang, saya jadi melihat kebelakang dan dengan mudahnya keseriusan itu hilang. Saya sangat bangga melihat perubahan saya yang dimana lebih baik lagi, yang saya yakin itu semua proses panjang yang pasti terjadi karena bantuanNya. Amin.

Selamat akhir minggu.

Perbandingan dua hari : Cerita

Kemarin pagi dimulai dengan sebuah ketidakharapan terhadap manusia, dan saya baik saja.
Dimulai dengan kepercaya dirian bahwa aku bisa, dan saya baik saja.
Tidak ada pikiran akan membuat seseorang bahagia atau kecewa, hanya berjalan seperti adanya saya, yang tenang dan damai.
Sorenya hari saat ingin beranjak ke sebuah tempat dengan menaiki transportasi yang sudah lama tak kunjung dinaiki,
saya bertanya seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa lagi, karena takut berubah dan saya nyasar.
saya melihat kejadian lucu antara pengemudi dan satgas transportasi tersebebut yang membuat kami menunggu sekitar 15 menit dengan pertengkaran mereka, "bapak sekolah gak, pakai sebut-sebut nama binatang." saya yang biasanya akan sedikit terpancing emosi, hanya berkata dalam hati "mungkin mereka sudah lelah." lalu memasang kembali earphone dengan lantunan lagu rohani yang menyejukkan.
Saat ingin mengantri ada ibu yang dengan baiknya berkata "Ibu kan hamil duluan saja." dan lalu saat tidak mengerti bahwa saat harus keluar halte harus pakai kartu lagi "Silakan mba." seorang perempuan membukakan pintu keluar dengan kartunya, saya : "tersenyum dalam hati, ahh baiknya."
Lalu bertemu dengan pujaan hati yang sudah janjian di tempat tersebut, kami makan dan bertemu dengan tiga anak muda mudi yang belia penuh dengan "keceriaan" di jam yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dengan bahagia dan cerianya mereka melewati kami yang mengantri di jalur antrian, dan saat akhirnya hanya ada satu kasir yang buka mereka kembali berbaris di belakang kami, lalu tiba2 dibukalah kasir kedua dengan sigapnya anak mudi yang ceria ini melewati kami, sedangkan dua teman muda lainya masih dibelakang, lalu dengan santainya kami langsung memesan. Mba kasir yang tidak tahu apa2 bertanya : "bareng atau beda?" kami "beda mba." mba: "Maaf mba ade ini duluan." ade ceria muda belia :"gpp kita ngalah." kami : "(diam)" dan langsung memesan makanan kami.
Sesampainya di meja makan lalu kami mengomentari para muda mudi yang belia dan ceria tersebut, kesimpulanya : kami sudah lelah beraktifitas dan tidak layak mebuang emosi kami demi mengatasi keceriaan dan kebebasan mereka.
Lalu makan.

---- bersambung----