Wanita Panggilan (the Finale)

2:49:00 PM hanny arianty gultom 0 Comments

Diagnosa dokter itulah yang membuat saya memutuskan untuk tinggal tidak jauh dari anak saya. Setelah selesai dari ruang perawatan ibu saya harus bergabung bersama dengan kelima ibu lainya di ruang tempat penginapan ibu yang tepat berada di samping ruangan bayi-bayi kami. Selama kurang lebih tiga hari kedepan saya harus tinggal di satu ruangan sempit, gelap dan dingin.

Seperti tinggal di dunia lain,

Yang kami lakukan hanyalah tidur, mandi, makan, menyusui, makan, menyusui, makan, menyusui, mandi, dan tidur. Melihat ke kanan dan ke kiri para ibu, ditengah kosongnya waktu, mereka memilih untuk memompa asi mereka dibandingkan beristirahat agar dapat diberikan ke bayi mereka saat malam tiba.

Saya, ibu termuda dengan pengalaman anak pertama, belajar, banyak bertanya, dan mengobservasi semua tindakan mereka. Ada kalanya satu titik saya merasa beruntung berada di tempat itu, saat saya bisa belajar gratis, mempraktekan langsung dan yang paling penting saya tertular semangat mereka dalam memberikan asi kepada para bayi mereka. Bagaimana tidak, asi saya yang keluar sedikit saat bayi saya membutuhkanya lebih banyak untuk kesembuhanya, membuat saya sangat tertekan.

Seperti tinggal di dimensi lain,

Tidak ada kegiatan lain yang lebih penting selain hadir dan berada di dekat bayi kami. Kami para ibu harus siap siaga saat bayi-bayi kami membutuhkan kami. Setiap dua jam sekali mereka akan memanggil kami dengan tangisan kecil mereka. Betapa seringnya telpon berdering di ruangan itu, para suster memanggil kami para ibu yang mungkin tertidur lelah sehingga lupa waktunya untuk menyusui.

"Ibu tolong panggilkan ibu bayi brigitha, ya bu"
"Ibu tolong panggilkan ibu bayi masrhall, ya bu"

Bak wanita panggilan, kami hadir secepat kilat dengan gegas menuju ruang bayi-bayi kami memenuhi kebutuhan mereka.Tidak ada kata lelah. Tidak ada kata lelah. Tidak ada kata lelah. Semuanya kami lakukan untuk kesembuhan bayi-bayi kami. Pengorbanan yang rasanya seperti tidak berkorban apa-apa. Pengorbanan yang terasa sangat nikmat dan indah.

Peran ini tentunya akan berlanjut sampai di saat mereka bisa kami lepas dengan mandiri tanpa bantuan kami para ibu. Namun untuk sekarang, aku adalah wanita panggilan untuk anakku,
Marshall Jeremy Siagian.

 (END)




happy 3 months our lil one.. Jesus bless you like always

You Might Also Like

0 comments: