Perbandingan dua hari : Cerita

12:32:00 AM hanny arianty gultom 0 Comments

Kemarin pagi dimulai dengan sebuah ketidakharapan terhadap manusia, dan saya baik saja.
Dimulai dengan kepercaya dirian bahwa aku bisa, dan saya baik saja.
Tidak ada pikiran akan membuat seseorang bahagia atau kecewa, hanya berjalan seperti adanya saya, yang tenang dan damai.
Sorenya hari saat ingin beranjak ke sebuah tempat dengan menaiki transportasi yang sudah lama tak kunjung dinaiki,
saya bertanya seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa lagi, karena takut berubah dan saya nyasar.
saya melihat kejadian lucu antara pengemudi dan satgas transportasi tersebebut yang membuat kami menunggu sekitar 15 menit dengan pertengkaran mereka, "bapak sekolah gak, pakai sebut-sebut nama binatang." saya yang biasanya akan sedikit terpancing emosi, hanya berkata dalam hati "mungkin mereka sudah lelah." lalu memasang kembali earphone dengan lantunan lagu rohani yang menyejukkan.
Saat ingin mengantri ada ibu yang dengan baiknya berkata "Ibu kan hamil duluan saja." dan lalu saat tidak mengerti bahwa saat harus keluar halte harus pakai kartu lagi "Silakan mba." seorang perempuan membukakan pintu keluar dengan kartunya, saya : "tersenyum dalam hati, ahh baiknya."
Lalu bertemu dengan pujaan hati yang sudah janjian di tempat tersebut, kami makan dan bertemu dengan tiga anak muda mudi yang belia penuh dengan "keceriaan" di jam yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dengan bahagia dan cerianya mereka melewati kami yang mengantri di jalur antrian, dan saat akhirnya hanya ada satu kasir yang buka mereka kembali berbaris di belakang kami, lalu tiba2 dibukalah kasir kedua dengan sigapnya anak mudi yang ceria ini melewati kami, sedangkan dua teman muda lainya masih dibelakang, lalu dengan santainya kami langsung memesan. Mba kasir yang tidak tahu apa2 bertanya : "bareng atau beda?" kami "beda mba." mba: "Maaf mba ade ini duluan." ade ceria muda belia :"gpp kita ngalah." kami : "(diam)" dan langsung memesan makanan kami.
Sesampainya di meja makan lalu kami mengomentari para muda mudi yang belia dan ceria tersebut, kesimpulanya : kami sudah lelah beraktifitas dan tidak layak mebuang emosi kami demi mengatasi keceriaan dan kebebasan mereka.
Lalu makan.

---- bersambung----

You Might Also Like

0 comments: